Modal Norma Hanya Tekad yang Kuat dan Kerja Keras

Peluang Usaha

Tiga tahun silam, Norma Yuhana hanyalah seorang karyawan biasa. Setiap hari ia harus berkutat dengan kesibukan pekerjaan. Jam kerja yang panjang dan gaji pas-pasan membuat Norma menahan mimpinya sebagai pengusaha. Kini, anggota Kelompok Gold Kopsyah BMI Cabang Curug itu telah menjadi reseller sukses dengan mempekerjakan 10 karyawannya di seluruh stand kulinernya se-Jabodetabek.

KLIKBMI-Curug

Proses memang tak pernah mengkhianati hasil. Pembiayaan Rp5 juta dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI) yang dipakai Norma untuk mengembangkan usahanya pada pertengahan 2017 silam mengubah hidupnya semakin bermanfaat.  Ya, kisah hidup seseorang memang susah ditebak. Norma yang dahulu memandang sinis terhadap koperasi, kini mempraktekan ekonomi kerakyatan lewat koperasi.

Berawal dari rasa penasarannya terhadap agenda rembug BMI oleh para tetangganya di Curug, membuat Norma kepincut. Ia juga merasa heran bahwa baru kali ini ada koperasi yang sabar dan telaten mengajak para anggotanya untuk semangat berwirausaha.

Keheranan Norma semakin menjadi, saat ada rekannya yang dibawah taraf hidupnya juga mendapatkan pembiayaan dari BMI. Berbeda dengan lembaga keuangan lain yang terlebih dahulu meminta jaminan sebelum mendapatkan modal usaha.

PROTOKOL KESEHATAN: Salah satu stand Norma Farm milik Norma di Mall of Indonesia, Kuningan City, Jakarta. Di tengah PSBB, Norma tetap menjalani protokol kesehatan. (Dok Pribadi For KlikBMI)

”Awalnya suami saya mengganggap kalau kami tidak bisa membayar koperasi, rumah bisa disita. Tapi ternyata BMI tidak begitu. Akhirnya saya mengajukan diri mengajukan pembiayaan. Nyatanya, karyawan Kopsyah BMI yang datang sangat sopan dan terus memberikan kami semangat untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.

Melihat itu, penilaian Norma terhadap koperasi berubah. Akhirnya, Ibu dua anak itu pun mengajukan pembiayaan setelah menjadi anggota Kelompok Gold Kopsyah BMI Cabang Curug. Jumlahnya pun terbilang besar yakni Rp5 juta dalam pengajuan pertamanya.

Norma sadar jumlah tersebut terbilang besar baginya sebagai anggota baru, di sisi lain itu merupakan pembiayaan perdananya. Namun, ia tak kehilangan jalan. Berbeda dengan anggota lain, Norma mengajukan proposal bisnis secara lengkap yang kemudian disetujui oleh Kopsyah BMI.

”Saya ingat saat itu karyawan BMI yang mengurusnya (pembiayaan) adalah Pak Azizi. Saya kasih (proposal bisnis) ke dia dan akhirnya disetujui, Terima kasih pak, karena lewat bapak dan BMI, saya bisa seperti sekarang (sukses) ini,” ujar Norma saat diwawancarai Klikbmi di Ruang Podcast Buka Mata Indonesia, Gading Serpong, Tangerang, Selasa (8/12).

Modal Rp5 Juta, Kini Laba Tembus Rp3 Juta Perhari

Dengan modal pembiayaan Rp5 juta dari BMI, insting bisnis Norma terus diasah. Wanita kelahiran Bandung, 37 tahun silam itu langsungs tancap gas. Ia membuka usaha reseller aneka makanan, sayur-mayur dan olahan herbal.

Tidak hanya dari produk orang lain, Norma juga memasarkan produk anggota Kopsyah BMI. Berbekal kesabaran, ketelatenan dan mengutamakan kualitas, bisnis Norma menuai sukses dengan omset rerata Rp 10 juta- 15 juta per hari.

LAYANAN: Norma (kanan) bersama pengunjung stand miliknya di Halaman Kementerian Pertanian, Jakarta. (Dok Pribadi For KlikBMI)

”Saya harus mempertanggung jawabkan yang Rp5 juta (pembiayaan) ini. Alhamdulillah, dari modal tersebut usaha saya lancar dan terus mendapatkan order. Awalnya saya mengorder pesanan orang lain. Namun merambah ke anggota BMI, Salah satu produknya adalah milik anggota koperasi BMI yakni Kunyit asam, kemudian Jukajo alias Jus Kacang Ijo. Lama-lama kok banyak yang order,” terangnya.

Kebanjiran order, Norma bisa meraup laba bersih Rp3 juta-Rp4 juta per hari atau Rp90 juta – Rp120 juta perbulan. Angka itu sudah termasuk membayar 10 karyawannya.

“Siapa bersungguh-sunguh pasti Allah SWT kasih jalan,  dan jalan yang diberikan Allah kepada saya adalah bertemu dengan koperasi BMI, sehingga hidup keluarga saya kini jauh lebih baik,” tutur Norma.

Dari 10 karyawannya, Norma terus menambah sejumlah stand di pusat bisnis di DKI Jakarta. Seperti Kuningan City, Kementerian Pertanian hingga Kantor DPR RI. Dengan memperbanyak stand yang dijalankan, menurut dia, produk anggota BMI juga bisa dipasarkan lebih luas.

Lewat brand Norma Farm, Norma juga melebarkan sayapnya dengan membuka stand di AEON Mall BSD, Tangerang dan sejumlah bazzar dan food hall.

Tahun ini, Norma mendapat kabar baik. Usahanya telah mendapat kontrak dengan Mall retail terbesar asal Korea Selatan, Lotte Mall, untuk meyuplai produk kuliner ke sana pada awal Januari mendatang.  ”Hari ini (8/12) saja, kami baru saja membuka stand di Kantor DPR RI Jakarta,” jelasnya.

JOSSS: Norma (paling kanan) bersama para karyawan. Setelah tiga tahun menjalani pasang surut, Norma kini telah memiliki 10 karyawan. (Dok Pribadi For KlikBMI)

Selama pandemi, Norma mengaku usahanya mengalami penurunan omset. Tidak ada lagi bazar yang menjadi tempatnya berjualan, dan stand di Kementerian Pertanian pun harus ditutup sementara. Namun, sebagai Anggota Kopsyah BMI, ia tetap melakuan kewajibannya.

Baginya, anggota sebagai pemilik wajib bertanggung jawab untuk menggenjot permodalan. Angsurannya pun tetap dibayar lancar. ”BMI sudah banyak menolong saya selama ini. Saat susah mana mungkin saya mau meninggalkan BMI. Susah senang harus kita lewati bersama,” katanya.  

Usaha Norma pun mengalami fase New Normal. Penjualan dilakukan secara online. Lewat Whatsapp, Norma terus memasarkan produknya. Dengan begitu, Norma mengaku hubungannya dengan pelanggan semakin erat.

”Saya bisa datang sendiri menemui para langganan saya kalau mereka mau tambah order atau ada keluhan,” paparnya.

Kepada KlikBMI, Norma memberikan resep kepada para anggota BMI agar produknya diterima oleh pasar. Salah satunya dengan menjaga kualitas produk.

”Saya punya motto sendiri, cintailah produk yang kita jual seperti kalian mencintai diri sendiri. Jadi kualitas menjadi nomor satu bagi saya. Jika kita tidak bisa menjaga produknya, bagaimana kita bisa menjaga kepercayaan konsumen dengan baik,” paparnya.

Siap Pasarkan Produk Anggota BMI

Konsep tolong menolong dalam berkoperasi juga dilaksanakan oleh Norma. Salah satunya memasarkan produk kunyit asam milik anggota BMI. Ya, olahan kunyit asam yang dijualnya adalah milik Desri, salah satu anggota Rembug pusat Gold BMI Cabang Curug. ”Minuman sehat ini selalu ada di stand saya dan banyak yang suka,” katanya.

Norma juga bercerita, bahwa dari penjualan kunyit asam, Desri selalu menyisihkan pembayaran mingguan Kopsyah BMI. Selain Kunyit Asam, Norma juga memasarkan kuliner peyek milik anggota Kopsyah BMI. Untuk itu, ia mengaku tempat usahanya siap menjadi tempat anggota BMI yang kesulitan menjual produknya.

STAND SAYUR: Selain olahan makanan, Norma juga menjual sayur mayur di stand usahanya. (Dok Pribadi For KlikBMI)

”Produk yang disalurkan baru di Kelompok Gold saja sih, saya belum meluas. Tapi bagi rekan-rekan anggota BMI yang memiliki produk dan ingin saya pasarkan saya punya syarat yakni halal dan wajib anggota BMI. Lebih lanjut, silahkan hubungi nomor saya di 081411137857 dan jika tidak, bisa datang ke kantor cabang-cabang BMI di mana saja,” tegasnya.

”Jika rekan-rekan BMI memiliki pembiayaan dari Kopsyah BMI, saya berpesan gunakan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Jika para anggota memiliki produk, salurkan ke Koperasi BMI karena saya yakin BMI mampu memasarkannya,” pesannya. (gar/KLIKBMI)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.