Tangerang, Klikbmi.com: Jalan kecil berdebu di Desa Wanakerta, Sindang Jaya, Tangerang, membawa kami ke sebuah rumah sunyi yang menyimpan ribuan cerita luka batin. Lembaga Kesejahteraan Sosial Rehabilitasi Mental dan NAPZA Benteng Darul Iman berdiri sederhana dibalik tembok dan kawat besi, namun di dalamnya tersimpan cahaya kasih yang berusaha mengobati jiwa-jiwa yang rapuh.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Lebih dari 20 orang dengan gangguan jiwa dirawat di sana. Ada yang dulunya santri, ada yang korban kekerasan rumah tangga, ada korban napza, ada pula yang tersesat dalam rasa bersalah yang tak mampu ia tahan. Mereka datang atau dijemput dengan luka yang tak terlihat mata, tetapi terasa menyesakkan di dada.

Sebelum gerbang dibuka, lantunan suara seorang pria terdengar dari balik pagar yang dibuat tinggi, bacaan Al-Qur’an dengan fasih, tapi meluncur begitu cepat seolah menyaingi waktu. Ia adalah Putra (nama samaran), seorang anak pesantren yang tak kuasa menanggung rasa bersalah, hingga pikirannya patah, Ia mengenang dosa dengan kekasihnya didasar hati yang siapapun tiada mampu menyelami seberapa bersalah Ia terhadap dosa itu. Ada pula Putri (nama samaran), yang kini terkurung di ruang perempuan. Ia menjadi kleptomania, setelah melewati siksa batin panjang akibat KDRT bahkan pengkhianatan rumah tangga yang “menjualnya” dalam makna paling kelam oleh suami yang sangat ia sayang.
Di balik kisah-kisah pilu itu, berdiri sosok Ustaz Ahmad Sholihin, Ketua Yayasan, yang dengan penuh kelembutan dan senyum yang tiada putusnya mengasuh mereka. Ia bukan lulusan fakultas psikiatri, bukan pula sarjana psikologi. Bekalnya hanya petualangan panjang dari pesantren ke pesantren sejak 1988, menjadi “petualang agama” yang akhirnya dipertemukan dengan jalan hidup untuk menyembuhkan jiwa-jiwa yang retak.
“Pasrahkan diri kepada Allah. Ujian itu kita terima dengan lapang dada. Intinya pasrah, sabar, tawakkal,” ucap Sholihin, ketika kami bertanya tentang akar kegelisahan jiwa manusia.

“Jangan introvert. Itu bahaya. Bicarakan dengan orang terdekat jika ada masalah. Alhamdulillah, kini banyak yang mulai bisa bersosialisasi. Padahal saat pertama datang, banyak yang hanya bisa marah-marah atau menutup diri.” Tambahnya kepada tim Redaksi Klikbmi.com.
Dalam kunjungan ini, kami ditemani Casmita, Direktur Bisnis dan Pemberdayaan Koperasi Syariah BMI, yang juga pembina yayasan ODGJ. Kehadiran Koperasi BMI bukan sekadar sebagai lembaga simpan pinjam, melainkan juga sebagai penopang kehidupan sosial. Awal pertemuan dengan Ust. Solihin, Casmita melaporkan langsung kepada Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara (Kambara), bahwa Koperasi BMI perlu membantu Ust. Solihin merehabilitasi ODGJ. Maka atas kebijakan Kambara, Yayasan Benteng Darul Iman hidup dari subsidi Koperasi BMI, agar cahaya kasih yang ada di dalamnya tak padam.
Kehidupan di yayasan itu mengajarkan bahwa merawat orang dengan gangguan jiwa bukanlah pekerjaan mudah. Ada yang tidak mau berbicara, ada yang marah-marah saat diajak bercakap, ada pula yang bercanda dengan jawaban yang tak nyambung. Namun di balik semua itu, setiap senyuman kecil yang lahir adalah kemenangan besar, setiap jabat tangan yang terulur adalah tanda jiwa mulai pulih.
Menjelang senja, Ustaz Sholihin mengajak mereka untuk berzikir bersama usai melaksanakan shalat Ashar berjama’ah. Suara tasbih dan tahmid bergema dalam kesyahduan. Beberapa di antara mereka menangis tersedu-sedu, menunduk penuh penyesalan mengingat dosa-dosa yang membekas dalam ingatan. Hati kami pun ikut larut, menyaksikan betapa zikir menjadi obat paling dalam bagi jiwa-jiwa yang haus akan ampunan.

Ketika kami hendak pamit, beberapa dari mereka dengan ramah melambaikan tangan, seakan melepas kepergian sahabat. Tidak terlewat, Putra dari jauh dengan mata berkaca-kaca dan suara lirih ia berkata, “Doakan saya… semoga taubat saya diterima Allah.” Itulah sepotong kisah yang mengingatkan kita bahwa di balik gangguan jiwa ada hati yang tetap merindukan Tuhan, ada doa yang tetap memohon ampunan.
Saudara-saudara kita yang berada di balik pagar sunyi ini sesungguhnya sedang mengetuk hati kita semua. Mereka tidak hanya butuh doa, tapi juga butuh uluran tangan. Kami mengajak pembaca, kaum dermawan, para sahabat kebaikan, mari berbagi bersama mereka. Bantuan Anda bisa disalurkan melalui ziswaf Koperasi BMI. Website kegiatan sosial Koperasi BMI dapat dikunjungi pada situs berikut www.ziswafbmi.com atau hubungi langsung tim ziswaf Koperasi BMI di nomor 08118802013.
Satu keping empati Anda bisa menjadi obat yang menenangkan. Satu sedekah Anda bisa menjadi jembatan bagi jiwa-jiwa yang tengah berjuang kembali menemukan dirinya. Karena setiap jiwa berhak untuk sembuh. Dan setiap cinta yang kita sisihkan, insyaAllah menjadi cahaya abadi di hadapan-Nya. (Nur/Humas)
