Bagaimana Ciptakan Lingkungan Kerja Yang Syar’i dan Berprestasi? Baca Disini!

Edu Syariah

Tangerang, Klikbmi.com: Anggota Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI), Sarwo Edi, menegaskan pentingnya membangun ekosistem lingkungan (milieu) yang positif di lingkungan kerja guna membentengi moralitas generasi muda dari berbagai ancaman non-militer. Salah satu fenomena mengkhawatirkan yang menjadi sorotan tajam saat ini adalah maraknya kampanye LGBT yang dinilai berpotensi menggerogoti ketahanan nasional.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Dalam tausiah rutin Jumat Khidmat yang diikuti oleh seluruh jajaran manajemen dan karyawan Koperasi BMI Group, Sarwo Edi menyampaikan bahwa ancaman terhadap kedaulatan bangsa tidak lagi sekadar bersifat fisik atau militer. Isu degradasi moral seperti maraknya kampanye LGBT kini telah masuk dalam kategori ancaman non-militer karena dampaknya yang luar biasa terhadap stabilitas sosial dan ketahanan nasional.

Langkah penanggulangan ancaman ini, lanjut Sarwo Edi, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang telah dibahas di Komisi I DPR RI dalam mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 11 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029.

Relevansi Tripusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Guna menangkal penetrasi ideologi dan budaya luar yang merusak tersebut, Sarwo Edi mengaitkannya dengan konsep Tripusat Pendidikan yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Konsep ini menekankan adanya tiga pilar lingkungan utama yang memengaruhi pembentukan karakter anak bangsa, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Faktor pertama dan terbesar adalah lingkungan keluarga. Orang tua memegang peranan krusial sebagai madrasah pertama dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan, akhlak, kedisiplinan, serta pembiasaan ibadah sejak usia dini. Pilar kedua adalah lingkungan sekolah yang berfungsi memperluas cakrawala ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat pembentukan keterampilan dan sikap anak di bawah pengawasan terstruktur.

Sementara pilar ketiga yang tidak kalah fundamental adalah lingkungan masyarakat. Sarwo Edi menggarisbawahi bahwa sebagian besar waktu manusia dalam sehari dihabiskan berinteraksi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat menjadi wadah nyata untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh keluarga dan sekolah.

Optimalisasi Lingkungan Kerja sebagai Pilar Karakter

Bagi masyarakat usia produktif yang telah bekerja, makna “lingkungan masyarakat” ini meluas ke area tempat kerja. Menurut Sarwo Edi, seorang karyawan menghabiskan sepertiga hingga setengah dari waktunya setiap hari di kantor.

“Lingkungan kerja memiliki peran yang sangat strategis dalam mendidik karakter, akhlak, kedisiplinan, hingga penguatan nilai-nilai agama yang mungkin belum tuntas didapatkan di keluarga maupun sekolah. Di Koperasi BMI, ekosistem ini harus disetting sedemikian rupa agar selalu memancarkan aura positif,” ujar Sarwo Edi.

Ia menekankan bahwa penciptaan lingkungan kerja yang religius dan disiplin merupakan tanggung jawab kolektif, dengan jajaran manajemen puncak (top management), pimpinan regional, hingga kepala cabang sebagai motor penggeraknya. Manajemen memiliki peran strategis untuk memastikan tidak ada ruang bagi kelalaian ibadah maupun pelanggaran etika di lingkungan kantor dan lapangan.

Budaya Saling Mengingatkan dan Sense of Belonging

Lebih lanjut, Koperasi BMI berkomitmen tidak hanya berfokus pada edukasi dan kesejahteraan anggotanya, tetapi mengutamakan pembinaan internal karyawannya terlebih dahulu. Pola pembiasaan (habituation) yang baik diharapkan melahirkan sifat kepedulian sosial yang tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, Sarwo Edi turut mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi sebagai landasan teologis pentingnya memilih lingkungan sosial yang baik:

“Al-mar’u ‘ala diini khaliilihi, falyandzur ahadukum man yukaalilu”, artinya “Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dijadikan teman bergaulnya.”

Menutup tausiahnya, Sarwo Edi berpesan agar seluruh elemen di Koperasi BMI memperkuat rasa memiliki (sense of belonging) terhadap institusi. Dengan tumbuhnya rasa memiliki, setiap individu akan bertindak sebagai pemimpin yang responsif dalam menyelesaikan tantangan bersama serta terus “mengompori” atau saling mendukung dalam koridor kebaikan.

“Ketika lingkungan kerja kita baik dan bersatu, maka energi positif yang terpancar akan menarik hal-hal baik pula. Dengan demikian, kehadiran Koperasi BMI akan semakin sempurna, kuat, dan memberikan manfaat yang luas bagi kemaslahatan umat,” pungkasnya. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *