Tangerang, Klikbmi.com: Kesibukan pekerjaan, tuntutan dunia, dan kebutuhan hidup yang seolah tidak pernah berhenti sering kali membuat manusia semakin jauh dari Allah SWT. Rutinitas yang padat membuat hati, pikiran, perasaan, fisik, hingga jiwa lebih fokus mengejar urusan dunia, sementara kebutuhan spiritual perlahan mulai diabaikan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pesan tersebut disampaikan Sarwo Edy, Anggota Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI), dalam agenda Jumat Khidmat. Menurutnya, ketika seseorang mulai jauh dari Allah, ibadah perlahan ditinggalkan, zikir mulai dilupakan, bahkan Al-Qur’an sudah lama tidak lagi dibaca. Akibatnya, hati menjadi lebih mudah diliputi rasa cemas, stres, gelisah, kehilangan arah, hingga rentan terhadap berbagai pengaruh negatif dan dosa.
“Jauh dari Allah membuat kita kehilangan kekuatan sejati untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita kehilangan inspirasi, kehilangan makna hidup, bahkan bisa tersesat dalam mencari arti kehidupan yang sebenarnya,” ujarnya.
Meski demikian, Sarwo Edy mengingatkan agar tidak pernah berputus asa. Selama Allah masih memberikan kehidupan, selalu ada kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 186 yang menegaskan bahwa Allah senantiasa dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya.
“Allah tidak pernah jauh. Justru sering kali hambanya sendirilah yang memilih untuk menjauh,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan sebuah ungkapan hikmah “Inna husna ‘alaqotika billahi min akbari ‘awamili najahika. yang memiliki arti “Sesungguhnya keharmonisan hubunganmu dengan Allah adalah faktor terbesar kesuksesanmu.”
Menurutnya, banyak persoalan dalam kehidupan berawal dari hubungan yang kurang baik dengan Allah. Ia mengibaratkannya seperti sebuah keluarga yang mengalami masalah karena hubungan suami dan istri yang tidak harmonis.
“Layaknya sebuah masalah dalam keluarga yang diakibatkan oleh hubungan yang kurang baik antara suami istri, begitulah juga banyaknya masalah yang muncul karena kurang baiknya hubungan kita dengan Allah,” jelasnya.
Untuk memperjelas pesan tersebut, Sarwo Edy membagikan kisah seorang kenalannya yang mengaku sudah lama jarang melaksanakan salat, namun justru mendapatkan hadiah umrah dari sebuah lembaga. Rekannya sempat mengira hal itu merupakan jawaban atas doa orang yang terzalimi. Namun setelah ditanya, ternyata ia sendiri mengaku tidak pernah berdoa agar bisa berangkat umrah.
“Dari situ saya sampaikan, bukan karena doa itu terkabul, tetapi bisa jadi inilah cara Allah agar hamba-Nya kembali dekat kepada-Nya. Allah langsung mendekatkan hamba itu ke Baitullah agar kembali mengingat-Nya,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai ujian, kesulitan, maupun nikmat yang diberikan Allah sejatinya dapat menjadi jalan agar seorang hamba kembali mendekat kepada-Nya. Karena itu, sebelum memperbanyak ikhtiar dunia, seseorang perlu lebih dahulu memperbaiki hubungan dengan Allah melalui salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan meningkatkan kualitas ibadah.
Sarwo Edy juga mengutip hadis qudsi yang menyatakan bahwa Allah akan bersama hamba-Nya ketika ia mengingat-Nya. Menurutnya, apabila seseorang ingin mendapatkan kemudahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, maka langkah pertama yang harus dilakukan bukan hanya memperbanyak ikhtiar dunia, tetapi juga memperkuat ikhtiar akhirat dengan melakukan introspeksi terhadap kualitas hubungannya dengan Allah.
Menutup tausiyahnya, ia mengajak seluruh Insan Koperasi BMI Group untuk memanfaatkan kesempatan hidup yang masih diberikan Allah sebagai momentum untuk berubah menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya.
“Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu dekat dengan Allah dan tidak termasuk orang-orang yang kufur nikmat,” pungkasnya. (Nur/Humas)
