Klikbmi.com Pandeglang – Empat tahun lamanya Nenek Iin hanya bisa memandang jalan kampung dari rumahnya. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuh. Untuk sekadar keluar rumah pun, lansia berusia 84 tahun itu harus mengandalkan bantuan orang lain.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Selasa (8/9/2026), suasana berbeda terasa di rumah sederhana Nenek Iin di Kampung Sawah RT 002/RW 001, Desa Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Sebuah kursi roda baru datang. Bukan sekadar benda dengan empat roda, tetapi menjadi harapan agar Nenek Iin kembali memiliki kesempatan menikmati udara luar rumah setelah bertahun-tahun terkurung oleh keterbatasan fisiknya.
Kursi roda itu dibawa tim Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). Bantuan diserahkan oleh Manajer Regional Kopsyah BMI Imam Arief Akhmadi bersama Manajer Cabang Menes Beni.
Menariknya, Nenek Iin bukan anggota Kopsyah BMI.
Namun, status keanggotaan bukan menjadi batas bagi kepedulian. Ketika kabar tentang kondisi Nenek Iin sampai ke Kopsyah BMI, bantuan pun diupayakan.
Selama empat tahun terakhir, Nenek Iin hidup seorang diri di rumahnya. Tak ada saudara yang tinggal bersamanya. Dalam kondisi seperti itu, tetangga menjadi orang-orang yang paling dekat dengannya.
Beni mengatakan, kehidupan sehari-hari Nenek Iin banyak bergantung pada perhatian warga sekitar.
“ Nenek Iin hidup dari belas kasih para tetangganya,” terang Beni.
Cerita tentang kondisi Nenek Iin pertama kali diketahui tim Kopsyah BMI ketika melakukan anjang sana ke Kantor Desa Menes. Saat itu, Sekretaris Desa Menes Mukidin menyampaikan kondisi lansia tersebut.
Dari informasi itulah, tim kemudian melihat langsung keadaan Nenek Iin. Kondisinya membuat bantuan kursi roda dinilai sangat dibutuhkan.
Hari penyerahan pun berlangsung sederhana. Tidak ada seremoni panjang. Tim datang ke rumah Nenek Iin, bertemu para tetangga, lalu membuka kardus berisi kursi roda.
Satu per satu bagian kursi dirakit. Di tengah ruangan rumah yang bersahaja, obrolan hangat mengalir. Para tetangga ikut menyaksikan. Suasana terasa seperti keluarga yang sedang menyiapkan sesuatu untuk salah satu anggotanya.
Setelah kursi roda selesai dirakit, tibalah momen yang paling ditunggu.
Nenek Iin perlahan dibantu untuk duduk di kursi roda tersebut. Tubuhnya yang selama empat tahun lebih banyak berada di dalam rumah kini mendapat penopang baru untuk bergerak.
Raut wajahnya berubah. Ada lega, ada bahagia, sekaligus seperti menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang: kesempatan untuk keluar rumah.
Para tetangga yang selama ini menjadi keluarga bagi Nenek Iin kemudian mendorong kursi rodanya keluar.
Roda kursi berputar perlahan melewati halaman rumah. Nenek Iin bisa kembali menghirup udara segar, melihat suasana kampung, dan menyapa lingkungan yang selama ini hanya bisa dinikmatinya dari dalam rumah.
Bagi sebagian orang, keluar rumah mungkin perkara sederhana. Tinggal melangkah, membuka pintu, kemudian berjalan ke halaman.
Tetapi bagi Nenek Iin, empat tahun lumpuh membuat hal sesederhana itu menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Kini, keterbatasan itu sedikit demi sedikit mendapatkan jalan keluar. Bukan karena kakinya kembali kuat, tetapi karena ada kursi roda dan orang-orang yang bersedia mendorongnya.
Kopsyah BMI pun ingin menunjukkan bahwa koperasi tidak hanya berbicara tentang simpan pinjam dan aktivitas ekonomi. Ada nilai sosial, kepedulian, serta semangat gotong royong yang diharapkan tumbuh bersama gerakan koperasi.
Terpisah Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara mengatakan, bantuan kursi roda untuk Nenek Iin menjadi bagian dari komitmen Koperasi BMI untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, koperasi tidak boleh hanya dipahami sebagai lembaga yang mengurus persoalan simpan pinjam, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat sosial bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
“Ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan, kita harus berusaha hadir. Nenek Iin memang bukan anggota Kopsyah BMI, tetapi kondisi beliau membuat kita terpanggil untuk membantu. Inilah semangat kekeluargaan dan gotong royong yang ingin terus kami hidupkan melalui koperasi,” ujar pria yang akrab disapa Kambara tersebut..
Ia menambahkan, kursi roda yang diberikan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang lansia yang sudah empat tahun mengalami kelumpuhan, bantuan tersebut memiliki arti yang sangat besar. Menurutnya, bantuan bukan hanya soal barang yang diserahkan, melainkan tentang memberikan kembali ruang gerak, kenyamanan, dan harapan kepada penerimanya.
“Jangan melihat nilai bantuannya dari besar atau kecilnya. Bagi orang yang membutuhkan, sesuatu yang sederhana bisa menjadi sangat berarti. Kursi roda ini mudah-mudahan membuat Nenek Iin bisa kembali menikmati suasana di luar rumah, menghirup udara segar dan berinteraksi dengan tetangga yang selama ini sudah menjadi keluarganya,” katanya.
Kambara menegaskan, semangat kepedulian seperti itu harus terus tumbuh di lingkungan Koperasi BMI. Ia berharap aksi sosial melalui semangat ZISWAF dan gotong royong dapat semakin luas sehingga manfaat koperasi tidak berhenti pada anggota, tetapi juga menjangkau masyarakat dhuafa dan mereka yang membutuhkan.
“Koperasi BMI ingin terus menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kebermanfaatan. Semoga apa yang dilakukan untuk Nenek Iin menjadi amal kebaikan dan membawa keberkahan bagi semua yang terlibat. Kita ingin koperasi bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga kuat dalam kepedulian sosial,” pungkasnya,(humas/Togar).
