Jumat Khidmat: Allah Memudahkan, Mengapa Manusia Justru Mempersulit?

Edu Syariah

Tangerang, Klikbmi.com: Agama pada dasarnya memberikan kemudahan bagi manusia. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, manusia justru kerap membuat sesuatu yang telah dimudahkan menjadi sulit. Hal itu menjadi pesan utama dalam Hikmah Jumat yang disampaikan Hendri Tanjung, Ph.D., selaku akademisi dan pakar ekonomi syariah yang saat ini menjabat sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor sekaligus Ketua Pengawas Syariah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mengangkat tema “Agama Memudahkan Manusia Mempersulit”, Hendri memberikan contoh dalam konteks pernikahan.

Dari Ibnu Abbas dijelaskan sebuah hadis yang artinya, “Sebaik-baik perempuan adalah yang paling ringan maharnya.” Hadis tersebut diriwayatkan dalam Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Taimiyah.

Namun, apa yang terjadi? Manusia sendiri yang mempersulit dengan gengsi sosial. Mahar menjadi mahal. Akhirnya, perempuan-perempuan tidak menikah karena menetapkan mahar yang mahal. Laki-laki takut datang dan akhirnya pernikahan menjadi sulit.

“Allah sudah memudahkan, tapi manusia sendiri yang mempersulit,” ujar Hendri.

Menurutnya, kondisi semacam ini banyak terjadi di antara manusia. Hal yang sama juga dapat dilihat dalam konteks ketika manusia mencari pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah berfirman, “wasta‘înû bish-shabri wash-shalâh” yang berarti minta tolonglah dengan sabar dan shalat.

Tetapi banyak manusia tidak mau sabar dan tidak mau shalat, sementara pada saat yang sama meminta pertolongan kepada Allah.

“Minta tolong dipecahkan persoalannya, tapi nggak mau sabar, nggak mau sholat,” kata Hendri.

Pesan tersebut, menurut Hendri, juga relevan dengan kondisi koperasi. Dengan latar belakangnya sebagai akademisi dan pakar ekonomi syariah, ia mengingatkan bahwa dalam menghadapi operasional koperasi, ikhtiar memperbaiki keadaan harus berjalan bersama dengan kesabaran dan shalat.

“Kita minta tolong kepada Allah untuk menyehatkan koperasi kita ini dengan sabar dan sholat,” tuturnya.

Hendri menegaskan bahwa sabar bukan berarti berpangku tangan. Sabar adalah menerima keadaan dan kemudian berikhtiar maksimal untuk memperbaiki keadaan.

“Tapi jangan lupakan yang kedua, sholat. Wa bis-shabri wash-shalah,” ujarnya.

Karena itu, menurut Hendri, sabar dan shalat merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan.

“Jadi, kalau kita sudah sabar, kita harus sholat. Kadang-kadang sudah sabar, tapi nggak sholat. Kadang-kadang sholat, tapi nggak sabar,” katanya.

Ia pun mengingatkan bahwa kedua hal tersebut harus dilakukan secara bersamaan. Allah telah memberikan kemudahan melalui sabar dan shalat, tetapi manusia sendiri yang kerap mempersulitnya dengan tidak mau bersabar atau tidak mau shalat, atau bahkan tidak melakukan keduanya.

“Allah sudah memudahkan dengan cara sabar dan sholat, tapi kita sendiri yang mempersulitnya dengan tidak mau sabar atau tidak mau sholat. Atau tidak dua-duanya, tidak sabar dan tidak sholat,” pungkas Hendri.

Bagi insan koperasi, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa memperbaiki keadaan tidak cukup hanya dengan ikhtiar lahiriah. Kesabaran dalam menghadapi keadaan, ikhtiar maksimal untuk melakukan perbaikan, serta shalat sebagai jalan memohon pertolongan Allah harus berjalan bersama. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *