Berkat BMI, Elis Sukses Salurkan Rotinya ke 100 Warung Langganan

BMI Corner


فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

”Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyirah: 5-6).

TANGERANG – Proses memang tak mengkhianati hasil. Seperti itulah alur kehidupan Elis Lisnawati (34). Empat tahun silam, Ketua Rembug Pusat Belimbing Kopsyah BMI Cabang Sukadiri itu hanyalah seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan di Pabrik Panarub, Kota Tangerang ia tinggalkan karena harus mengasuh dua buah hatinya. Kendati demikian, ibu dua anak ini selalu mencari cara agar tetap produktif. Bersama sang suami Afrizal, akhirnya pasutri ini memutuskan membuka usaha bakery (roti, kue dan donat).

Namun, dari hari ke hari, keuntungan terus menipis. Masalahnya satu, modal. Permintaan dari warung langganan memang banyak, namun perkara modal terus menjadi kendala. Akhirnya pertengahan 2018, ia dipertemukan oleh Koperasi Syariah BMI lewat koleganya, Jumriyati.

Sebelum mendapatkan pembiayaan, Elis-sapaan akrsab Elis Lisnawati- terlebih dahulu berdiskusi dengan sang suami. Akhirnya sang suami menyetujui dengan alasan bahwa pembiayaan dari Kopsyah BMI harus dipakai untuk membantu modal usahanya, bukan konsumsi semata.

“Pembiayaan pertama sebesar Rp 3 juta saya belikan bok untuk donat dan Alhamdulilah, 6 bulan lunas. Sampai akhirnya terus bisa membeli oven, mixer dan bangun dapur,” ujarnya mengawali pembicaraan saat ditemui di rumahnya, Kampung Kalapa, Desa Buaranjati, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, Senin (19/7).

Lewat pembiayaan modal dari BMI, Elis dan Afrizal membangun dapur berukuran 4 x 6, lengkap dengan peralatan bakery dan rak roti. Hingga bulan ini, Elis masih mengakses pembiayaan dari BMI sebesar Rp 25 juta yang dilunasinya hingga setahun.

DAPUR : Suami Elis, Afrizal tengah memeriksa oven produksi roti. Dalam sehari, usaha bakery bersama istri mampu memproduksi 1.000 hingga 2.000 potong roti beragam jenis.

“Alhamdulillah pak sekarang bisa beli mobil walaupun butut juga,” terangnya. Ya, di depan warungnya, terparkir Mobil Ford Laser keluaran 1993. Mobil itu dibelinya dari keuntungan usahanya.

Di dapur itu, ia dan suami berjibaku membangun usahanya. Total 1.000 buah roti diproduksinya setiap hari. Namun produksinya tidak setiap hari, polanya tiga hari berproduksi dan tiga hari pengiriman. Total sudah ada 100 warung di Sukadiri dan Mauk yang telah menjadi langganan mereka. Omzet sekali pengiriman mencapai Rp 1,2 juta.

“Saya nggak mau ke koperasi-koperasi lain, selain BMI. Alhamdulillah, ekonomi kami terangkat,” aku Elis.

Proses produksi dan pengiriman menjadi tanggung jawab Afrizal, suami Elis. Pria asal Lampung Tengah itu sudah 12 tahun malang melintang di dunia bakery. Delapan tahun silam, ia adalah chef bakery Toko Roti bergengsi di Jakarta Timur, JC Bakery. Namun, perjuanganya menjadi chef bakery tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Saat awal masuk tahun 2006, saya hanya pesuruh pak, beli tepung, beli mentega pokoknya saya disuruh sana sini. Sampai saya punya niat belajar buat roti dan akhirnya saya diajarkan membuat roti. Baru di awal 2008, saya dipercaya jadi chef di JC Bakery,” terang Afrizal.

Roti bertabur selai coklat buatan Afrizal dan Elis

Senin itu, Afrizal baru saja mengirimkan 1.108 potong roti ke warung-warung langanannya. Nama Eliza Bakery tertempel di semua roti produkus Afrizal dan Elis. Ada 20 jenis roti yang bisa mereka buat. Dari harga Rp 2.000 untuk kelas bawah, hingga premium di Rp 8.000 per potong. Harga yang timpang jika dibandingkan roti di Mall atau Toko Roti Sejabodetabek. Kendati demikian, Semua roti yang mereka buatpun baik untuk kesehatan karena tidak memakai bahan pengawet sekalipun.

“Pokoknya roti yang kami buat harus fresh dan hangat dari oven. Tidak ada pengawet, itu yang saya jaga selalu sampai sekarang. Makanya, banyak sales roti yang enggan melirik kami karena itu (tanpa pengawet) kali ya, roti saya cuma tahan tiga tapi sehat di badan,” tandasnya.

Empat dari 20 jenis roti yang diproduksi Elis dan Afrizal di dapurnya

Sementara, Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara mengatakan bahwa Koperasi BMI sangat mendukung upaya anggota nya untuk menjalankan usaha mikro dengan penuh kesunguhan hingga akhirnya usaha tersebut berkembang dan menjadi sumber pendapatan utama, untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
”Pembiayaan yang kami salurkan saat itu digunakan sesuai dengan peruntukkan sehingga usahanya terus berkembang dari masa ke masa hingga sekarang menjadi besar dan dikenal semua orang. Kami merasa bahagia ada anggota kita yang berhasil dalam merintis dan mengembangkan usaha dan diharapkan memang kita bisa terus menumbuhkan usaha baru,” terangnya.

Lebih lanjut Penulis Buku Best Seller Model BMI Syariah itu menambahkan bahwa di saat pandemi ini, salah satu cara untuk menjaga kuantitas penjualan produk adalah melalui layanan digital online. ” E-commerce merupakan salah satu keharusan sekarang ini, buat para pelaku usaha mikro untuk tetap bertahan di tengah wabah pandemi ini,” tandasnya.

(gar/KLIKBMI)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *