Berpikir Dan Berjiwa Besar Dalam Islam (Bagian 2 dari 2 Artikel)

Info ZISWAF

Nasehat Dhuha Kamis, 1 April 2021 | 11 Hari Menuju Ramadhan 1442 H | Oleh : Sularto

Klikbmi, Tangerang – Berpikir dan berjiwa besar dalam Islam sesungguhnya adalah menempatkan tujuan besar akherat sebagai tujuan besarnya. Semua untuk akherat, karena semua yang untuk akherat maka dunia akan ikutan. Sudah tabiat manusia tak pernah puas dengan apa yang saat ini dimilikinya. Selalu saja, ingin memiliki yang lebih dari sekedar yang dimilikinya saat ini. Ya, dunia memang akan terus menggoda siapa saja yang berada di dalamnya. Dunia menawarkan sejuta kenikmatan, yang dapat membuat manusia tergiur akan kelezatannya. Begitulah tipu daya dunia yang fana ini.

Dunia ini tak ubahnya seperti air laut, semakin diminum maka akan semakin bertambah hauslah kita. Semakin kita berhasrat untuk mengejar dunia, maka akan semakin terlena pula kita dibuatnya. Khawatirlah bila sampai kita tenggelam dalam keindahan juga kenikmatan lautan dunia. Karena bilamana diri sudah tenggelam dalam lautan dunia, akan sulit untuk kita kembali ke permukaan. Karena memang dunia diciptakan indah bagi orang-orang yang menganggap dunia ini adalah segalanya.

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina (tidak bernilai di hadapannya)

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan cinta kepada akhirat dan zuhud dalam kehidupan dunia, serta celaan dan ancaman besar bagi orang yang terlalu berambisi mengejar harta benda duniawi.

Orang yang cinta kepada akhirat akan memperoleh rezki yang telah Allah tetapkan baginya di dunia tanpa bersusah payah, berbeda dengan orang yang terlalu berambisi mengejar dunia, dia akan memperolehnya dengan susah payah lahir dan batin. Salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata,  “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir. Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu, sebagaimana dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“. Kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan dalam hati/jiwa. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa.

Kebahagiaan hidup dan keberuntungan di dunia dan akhirat hanyalah bagi orang yang cinta kepada Allah dan hari akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya

Disarikan dari viral di grup whatsup, menarik mengamati perkataan dari Eleanor Roosevelt, mantan Presiden USA yang mengatakan : “Small Minds discuss people,, Average Minds discuss events, Great Minds discuss ideas”. Pikiran Kecil membicarakan orang. Pikiran Sedang membicarakan peristiwa. Pikiran Besar membicarakan gagasan”. Maka sebagai akibatnya. PIKIRAN KECIL akan menghasilkan GOSIP. PIKIRAN SEDANG akan menghasilkan PENGETAHUAN. PIKIRAN BESAR akan menghasilkan SOLUSI. Ketiga jenis pikiran ini ADA di dalam setiap otak kita. Pikiran mana yang lebih mendominasi kita, begitulah apa yang dihasilkannya. Kalau setiap saat otak kita dipenuhi oleh Pikiran Kecil, maka kita akan selalu asyik dengan urusan orang lain, namun tidak menghasilkan apa-apa, kecuali perseteruan. Tetapi bila Pikiran Besar yang mendominasi, maka ia akan aktif menemukan terobosan baru. PIKIRAN KECIL senang menggunakan kata tanya “SIAPA”, PIKIRAN SEDANG senang menggunakan kata: “ADA APA”, sedangkan PIKIRAN BESAR selalu memanfaatkan kata tanya: “MENGAPA & BAGAIMANA”.

Dalam melihat satu peristiwa yang sama, misalnya jatuhnya buah apel dari pohonnya, akan cenderung ditanggapi berbeda. PIKIRAN KECIL akan tertarik dengan pertanyaan: “SIAPA SIH YANG KEMARIN KEJATUHAN BUAH APEL?” Pikiran Sedang akan bertanya: “APAKAH SEKARANG BERARTI SUDAH MULAI MUSIM PANEN BUAH APEL?” Sedangkan Si PIKIRAN BESAR : “MENGAPA BUAH APEL ITU JATUH KE BAWAH, BUKANNYA KE ATAS?” Dan..pikiran yang terakhir itulah yang konon menginspirasi SIR ISAAC NEWTON menemukan TEORI GRAVITASI-nya yang sangat terkenal! Tidak ada satupun prestasi atau karya di dunia ini yang dihasilkan oleh Pikiran Kecil. Di samping itu, ketiga jenis pikiran ini juga mempunyai ‘MAKANAN’ FAVORIT yang berbeda. Si PIKIRAN KECIL biasanya senang “melahap” TABLOID, INFOTAINMENT, KORAN MERAH. Si PIKIRAN SEDANG amat berselera dengan KORAN BERITA. Si PIKIRAN BESAR memilih BUKU yang membangkitkan INSPIRASI. Semoga pikiran2 kita didominasi oleh Pikiran Besar (Great Minds)…Aamiin

Jika kita ingin merubah dunia dan berpikir besar kita harus bisa menghargai orang lain. Ingat kata-kata dari Dale Carnegie, “Jika anda ingin mengumpulkan madu, jangan tendang sarang lebahnya.”  Setiap orang pasti memiliki kesalahan, namun apa setiap orang mau disalahkan? Dale Carnegie dalam buku ini di Bab satu menjelaskan bahwa “Kalau anda ingin mengumpulkan madu, jangan tendang sarang lebahnya”. Kritik adalah hal yang sia-sia, karena kritik menempatkan seseorang pada posisi defensive sehingga berusaha mempertahankan diri mereka, melukai kebanggaan mereka, dan menumbuhkan rasa benci mereka”.  

B.F Skinner mengatakan binatang yang diberi hadiah saat melakukan sesuatu akan lebih cepat belajar ketimbang binatang yang diberi hukuman karena gagal melakukan sesuatu. Sudah habit kita untuk menyalahkan orang lain dari pada memperbaiki diri, tapi kita bisa berubah dengan habit baik, so mulai saat ini mari kita belajar untuk tidak mengkritik dengan mencela apalagi mencerca. Berpikir dan berjiwa besar adalah satu seni menghargai orang lain. Untuk meraih karya besar kita tidak bisa melakukan sendiri, orang lain dan banyak orang harus mendukung ide dan gagasan kita dalam satu gerak langkah.

Semangat beraktifitas untuk mewujudkan cita-cita besar kita memberi manfaat melalui Koperasi BMI. Mari kita tingkatkan sedekah kita melalui rekening ZISWAF KOPSYAH BMI : 7 2003 2017 1 (BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.