Dari Usaha Kue Cucur, Anggota BMI Asal Pakuhaji Karyakan 60 Penjual Keliling

BMI Corner

Bangun Dua Rumah dan Untung Rp 1,5 Juta Perhari

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Baqarah : 195)

TANGERANG – Tekun dalam menjalani usaha sebagai penjual kue cucur, pasangan suami istri Acang (57)  dan Samah (54) warga Kampung Jambatan Papan, Desa Kiara Payung, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang patut diteladani. Karena dengan usaha tersebut, Samah yang juga anggota BMI Rembug Pusat Suwarnabhumi bisa membangun rumah bagi anaknya dan menabung simpanan umrah ia dan suaminya. Semua berawal dari pembiayaan modal dari BMI Rp 400 ribu , 16 tahun silam.

Samah banyak termenung saat mengenang bagaimana perjuangan bersama suaminya, Acang hingga sekarang. Acang hanyalah seorang ojek sepeda di Desa Kiarapayung, saat mempersuntingnya 36 tahun silam. Hingga dikaruniai tiga anak pun, kehidupan mereka tak banyak berubah.

Beban semakin berat saat putri keempat mereka lahir awal 1992. Ojek sepedanya pun ia tinggalkan. Acang banting stir menjadi pedagang kue tradisional khas Betawi. Setiap subuh, ia telah menjajakan kue hasil buatan kerabatnya mulai dari Pakuhaji hingga Sepatan. Hari ke hari, Acang dan Samah pun sudah terampil membuat penganan Betawi.

Acang (kiri) dan Samah (kanan) bersama putra bungsunya Ahmad Syafruddin berfoto di depan rumah barunya, Kamis (22/7)

“Anak ke empat masih orok (bayi), kami sudah jualan kue. Tapi ya cuma begitu-begitu saja (hasil tidak memadai), karena kan modalnya nggak cukup,” terang Samah mengawali pembicaraan kepada Klik BMI, Kamis (22/7).

Hingga tahun 2004, Samah akhirnya dipertemukan dengan Kopsyah BMI yang saat itu membuka rembug pusat di desanya. Dari BMI, Samah mendapatkan pembiayaan modal berdagang kue cucurnya sebesar Rp 400 ribu. Pembiayaan tersebut ia gunakan untuk membeli bahan kue.

“Dari modal pembiayaan Rp 400 ribu dari BMI, kami bisa seperti ini,” ujarnya.

Selain Cucur, Samah dan Acang juga membuat 30 varian kue sesuai pesanan. Ia pun dibantu oleh lima orang anaknya. Hari ke hari, satu persatu harus memisahkan diri karena menikah. Dua putrinya sudah tinggal bersama suaminya.

Samah dan Acang tinggal bersama dua anaknya, putri ketiganya Siti Laila (32) bersama suami dan sang bungsu, Ahmad Syafruddin (23). Mereka berbagi tugas, putra pertama dan si bungsu bertugas membeli bahan kue dan mengantar ke pengecer. Sementara, Laila berada di dapur.

Selama 29 tahun usaha kuenya berjalan, pembiayaan BMI terakhir yang mereka akses mencapai Rp 20 juta. Pasutri ini telah mempekerjakan 60 penjual keliling. Kesemuanya adalah ibu-ibu. Banyak di antaranya adalah anggota BMI. Kendati pandemi, mereka bisa menjual 3.000 kue setiap harinya dengan keuntungan bersih Rp 1,5 juta per hari.

Putri ketiga Acang dan Samah, Siti Laila (31) bersama wajan berisi adonan kue cucur. Dari tiga putrinya, hanya Laila yang masih berjibaku membangun usaha ini bersama orang tuanya.

“Itu belum kalau ada hajatan. Pesanan bisa 3 kali lipatnya. Kami saja nggak tidur-tidur pak,” ujar Samah.

Kepada Klik BMI, Samah mengaku pembiayaan dari BMI membuat mereka makin mandiri. Selain bisa membantu orang banyak, BMI juga telah membangkitkan mereka hidup lebih baik. Keuntungan hasil usahanya digunakan pasutri membangun dua rumah sekaligus. Rumah untuknya dan putra pertamanya.

Pasutri ini pun mengakses simpanan umrah BMI. Masing-masing sudah mencapai Rp 20 juta. Jika pandemi tak terjadi, mungkin Samah dan Acang sudah menjadi Tamu Allah di Tanah Suci.

“Saya cuma menabung dan dapat pembiayaan dari BMI. Nggak pernah di tempat lain. Alhamdulillah, di BMI, semua kebutuhan saya dari modal usaha sampai umrah bisa terpenuhi. Saya mengucapkan terima kasih kepada BMI yang sudah bantu kami dari 2004 sampai sekarang,” ujar Samah.

Terpisah, Presiden Direktur Koperasi BMI, Kamaruddin Batubara mengatakan bahwa model BMI syariah ini memang tangguh menghadapi pandemi. Model BMI Syariah yang di dalamnya ada model pertemuan rembug pusat salah satunya, diciptakan sesuai dengan karakteristik bangsa kita yang senang bergotong royong dan ta’awun, saling tolong – menolong satu sama lain. Dalam hal ini tentu tolong menolong dalam kebaikan, seperti tercantum dalam QS Al Maidah ayat 2.

“Tentu BMI bangga memiliki anggota semilitan Ibu Samah dan Pak Acang. Yang tetap semangat membangun ekonomi yang lebih baik. Turut membantu anggota lewat usahanya. Itulah koperasi, membangun jiwa gotong royong demi kebaikan dan kesejahteraan bersama,” paparnya.

“Lewat BMI, ayo kita tunjukkan bahwa koperasi ada untuk anggota. Kita ciptakan produk produk BMI baik simpanan, pembiayaan dan pemberdayaan yang memang untuk mereka. Sudah pasti jika kita lakukan itu dan kita berdoa agar Allah SWT membuka jalan untuk berjuang bersama sama,” tandasnya.

(gar/KLIKBMI)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *