Lebak, Klikbmi.com- Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, Abdul Wahab (58 tahun) menyiapkan jerigen-jerigen kosong di atas motor tuanya. Dari rumahnya di Kampung Warung Sugan, Desa Cilegong Ilir, Kecamatan Banjarsari,Lebak, Banten. ia meluncur pelan menembus jalan berbatu menuju sumber air terdekat yang jaraknya hampir dua kilometer.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!“Kalau pagi airnya masih ada. Kalau siang sudah kering,” tutur istrinya, Murni (55 tahun), dengan suara lirih. Murni Adalah anggota Rembug Pusat Donat, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) Cabang Banjarsari, pasangan ini menggantungkan hidup dari upah sawmill (penggergajian kayu) dan hasil kecil berjualan di rumah. Murni sudah lima tahun menjadi Anggota Kopsyah BMI. Tapi beberapa bulan lalu, sumur umum yang selama ini menjadi tumpuan ia dan tetangganya, kering total.
“Dulu bisa dipakai ramai-ramai, sekarang kering. Akhirnya kami beli air, Satu jerigen dua ribu rupiah,” ujar Murni. Dalam sehari, keluarganya bisa menghabiskan lebih dari 20-40 jerigen air. Artinya, bisa hampir Rp2 juta sebulan habis hanya untuk membeli air bersih,”kata Murni.

Bagi Murni, air bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi juga soal harga diri. Ia tak tega melihat suaminya pulang dengan punggung bermandikan keringat, mengangkut jerigen demi jerigen dari lembah. Hingga suatu hari, ia mendengar solusi dari tetangganya yang sudah mengakses Skim Mikro Tata Air (MTA) dari Kopsyah BMI.
“Awalnya ragu. Takut tidak sanggup bayar,” kata Murni. Namun setelah berdiskusi dengan staf lapang Kopsyah BMI Cabang Banjarsari, Dewi Amelia Iskandar dan mengikuti uji kelayakan bersama Manajer Cabang Banjarsari Muhammad Firkon, Murni akhirnya memberanikan diri mengajukan pembiayaan MTA sebesar Rp15,7 juta dengan jangka waktu selama dua tahun.
Beberapa minggu kemudian, sumur bor berdiri di belakang rumahnya. Air bersih pun menyembur deras dari bawah tanah, mengubah kehidupan keluarga itu.
Sumur tersebut bukan sumur biasa, melainkan sumur bor mesin satelit Grade A yang dibangun oleh Koperasi Jasa Benteng Mandiri Indonesia (Kopjas BMI). Dengan teknologi satelit, titik air dipastikan tepat dan berkualitas tinggi, sehingga debit airnya stabil meski di musim kemarau.
“Sekarang kami bisa mandi, mencuci, dan masak dan nggak usah beli air lagi. Alhamdulillah” ucap Murni sambil tersenyum lega.
Skim Mikro Tata Air (MTA) merupakan salah satu inovasi Kopsyah BMI untuk memberikan pembiayaan pembangunan akses air bersih kepada anggota, terutama di wilayah yang sulit menjangkau sumber air atau jaringan PDAM. Melalui akad Istishna’, anggota dapat membangun sumur untuk mengakses air bersih pengerjaanya dilakukan oleh tenaga terampil dari Kopjas BMI.

Selain MTA, Kopsyah BMI juga memiliki Skim Mikro Tata Sanitasi (MTS) bagi anggota yang ingin membangun fasilitas sanitasi sehat. Dua program ini menjadi bukti nyata bahwa koperasi tidak hanya berperan dalam permodalan, tapi juga dalam meningkatkan kualitas hidup anggotanya.
Kopsyah BMI bahkan menjadi mitra pertama Water.org di Indonesia sejak tahun 2014. Presiden dan Chief Operating Officer Water.org, Vedika Bhandarkar, dalam kunjungannya ke Kantor Pusat Kopsyah BMI 15 September 2025 lalu, menyebut koperasi BMI sebagai role model lembaga keuangan dunia yang berhasil menghubungkan pembiayaan mikro dengan layanan dasar manusia.
“Kopsyah BMI membuktikan bahwa koperasi dapat menjadi agen perubahan nyata dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDGs Nomor 6 tentang air bersih dan sanitasi layak,” ujar Vedika.
Keberhasilan BMI juga diakui dalam buku “Skim Pembiayaan MTS dan MTA” karya Kamaruddin Batubara yang diterbitkan Kompas Gramedia pada tahun 2021, sebagai salah satu best practice nasional dalam pembiayaan sosial berbasis komunitas.
Direktur Utama Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara, mengatakan bahwa kisah seperti yang dialami Murni merupakan bukti nyata bahwa koperasi syariah bisa menjadi solusi konkret atas masalah masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya.
“Kita tidak hanya bicara pembiayaan, tapi keberkahan. Air bersih adalah hak dasar manusia, dan koperasi hadir untuk memastikan anggota tidak lagi hidup dalam kekeringan,” ujarnya.
Menurut pria yang akrab disapa Kambara itu, program MTA dan MTS bukan semata proyek pembiayan semata, tetapi gerakan ekonomi umat berbasis kemaslahatan.
“Ketika anggota bisa mengakses air bersih, produktivitas meningkat, kesehatan keluarga membaik, dan ekonomi rumah tangga menjadi lebih kuat. Inilah esensi koperasi yang sesungguhnya,” tegas Kambara.
Ia menambahkan, kerja sama Kopsyah BMI dengan Water.org adalah bagian dari strategi jangka panjang koperasi untuk menghadirkan pembiayaan mikro berbasis keberlanjutan.
“Sejak 2014, melalui pembiayaan air dan sanitasi. BMI ingin memastikan bahwa setiap rumah tangga anggota memiliki akses air dan sanitasi yang layak, sejalan dengan semangat SDG’s,” kata Kambara.
Penerima Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI pada Harkopnas 2018 itu juga menegaskan bahwa gerakan koperasi harus selalu berpihak pada kemanusiaan.
“Ketika anggota tersenyum karena punya air sendiri, di situlah nilai tambah sosial koperasi hadir. Itulah yang membedakan Kopsyah BMI dari lembaga keuangan lain,” tutupnya.
Kini, Murni tak lagi khawatir ketika musim kemarau datang. Ia bahkan kerap membiarkan anak-anak tetangganya ikut mengambil air dari sumurnya.
“Namanya juga rezeki, kalau airnya banyak, ya dibagi,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari halaman rumah Murni yang kini selalu basah oleh air , semangat koperasi mengalir deras — menegaskan bahwa keberkahan sejati hadir ketika kepedulian tumbuh dari sesama anggota. Karena di Kopsyah BMI, air bukan hanya tentang kehidupan, tapi juga tentang gotong royong yang menghidupkan harapan. (Togar/Humas)

Sukses Kopsyah BMI ” Inovasi tiada henti”