Edi Ajak Insan BMI Selaraskan Ibadah dan Akhlak agar Tidak Menjadi Golongan Orang yang Bangkrut

Edu Syariah

Tangerang, Klikbmi.com: Anggota Pengawas Syariah Koperasi Syariah BMI, Sarwo Edi, mengajak seluruh insan BMI Group untuk tidak hanya memperhatikan kualitas ibadah kepada Allah Subahanahu Wa Ta’ala, tetapi juga menjaga akhlak dan etika dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Pesan tersebut disampaikan Edi dalam tausyiah Jumat Khidmat yang mengangkat tema tentang hakikat orang yang bangkrut dalam pandangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mengawali tausyiahnya, Edi menyoroti sebuah ungkapan yang kerap ditemui di media sosial, yakni tidak masalah jika perilaku atau ucapan seseorang buruk, asalkan rajin melaksanakan salat. Menurutnya, pandangan tersebut perlu diluruskan karena dalam Islam terdapat trilogi yang saling berkaitan, yaitu akidah, syariah, dan akhlak.

“Akidah artinya kepercayaan, syariah berarti bagaimana aturan, khususnya ibadah atau hubungan kita dengan Allah, dan yang ketiga adalah akhlak, yaitu etika,” ujar Edi.

Ia menjelaskan, ketiganya memiliki hubungan yang erat. Akidah yang baik seharusnya tercermin dalam pelaksanaan syariah yang benar dan menghasilkan akhlak yang baik pula. Untuk menggambarkan hubungan tersebut, Edi mengibaratkannya seperti sebuah pohon. Akidah merupakan akar, syariah adalah batang, sedangkan akhlak merupakan buah yang dihasilkan.

“Jadi, kalau keyakinan kita kuat, insyaallah syariahnya sebagai batangnya itu akan menjulang tinggi. Kita akan melakukan ibadah sesuai aturan yang baik. Terus akan menghasilkan buah akhlak atau etika yang juga baik,” jelasnya.

Namun, Edi kemudian mengajak seluruh Insan BMI untuk merenungkan bagaimana jika seseorang memiliki amal ibadah yang baik, seperti shalat, puasa, dan zakat, tetapi masih memiliki akhlak yang kurang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjawab hal tersebut, ia mengutip hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang orang yang bangkrut atau muflis. Dalam hadis riwayat Muslim tersebut, Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat mengenai siapa orang yang bangkrut. Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.

Akan tetapi, Rasulullah memberikan penjelasan yang berbeda. Orang yang benar-benar bangkrut adalah seseorang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi selama hidupnya pernah mencaci maki, menuduh, memakan harta orang lain, membunuh, serta memukul orang lain.

Akibat perbuatannya, pahala amal kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Apabila pahalanya telah habis sementara tuntutan orang-orang tersebut belum terpenuhi, dosa mereka akan dibebankan kepadanya hingga akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka.

“Kalau kita lihat, ternyata orang bangkrut itu bukan karena uangnya tidak ada. Dalam sektor usaha, ketika modalnya habis dan barangnya sudah tidak ada, maka dikatakan bangkrut usahanya. Nah, ini kiasan untuk dunia. Tetapi Rasulullah menyampaikan bahwa hakikat orang bangkrut adalah orang yang beramal saleh, tetapi secara muamalahnya tidak baik,” ungkap Edi.

Menurutnya, pesan hadis tersebut menjadi pengingat agar setiap muslim tidak hanya bersandar pada amal ibadah yang dilakukan, tetapi juga memperhatikan bagaimana hubungan dan perilakunya terhadap orang lain. Sebab, kebaikan dalam beribadah kepada Allah harus berjalan beriringan dengan kebaikan dalam bermuamalah dengan sesama manusia.

Edi menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan kerja di lingkungan Koperasi BMI Group. Sebagai insan yang bekerja di lembaga berbasis syariah, pengelola tidak cukup hanya menjalankan pekerjaan dan memastikan tanggung jawab profesionalnya terlaksana. Mereka juga perlu mengusahakan ibadah yang baik serta menjaga perilaku dan etika dalam lingkungan kerja.

“Jadi, kita sebagai pengelola tidak hanya sekadar bagaimana kita bekerja, tetapi kita juga harus memperhatikan bagaimana ibadah kita baik. Kalau kita kerja di syariah, selain pekerjaan yang menjadi fokus utama, kita juga perlu mengikhtiarkan bagaimana ibadah yang baik sebagai cerminan seorang muslim,” tuturnya.

Lebih lanjut, Edi mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berinteraksi dengan seluruh pihak di lingkungan koperasi, baik dengan pengurus, atasan, pengawas, manajer, sesama karyawan, maupun anggota. Menurutnya, sikap dan perilaku pengelola harus mencerminkan nilai-nilai insan syariah, terlebih dalam memberikan pelayanan kepada anggota.

Ia juga menegaskan bahwa ketika seseorang telah melaksanakan shalat, tetapi akhlaknya masih belum baik, bukan berarti ibadah shalatnya harus ditinggalkan. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi dan introspeksi untuk terus memperbaiki kualitas shalat dan ibadahnya.

“Jadi, bukan berarti saya sudah shalat, tetapi akhlak saya masih buruk, bukan berarti harus ditinggalkan shalatnya. Tetapi ketika kita sudah shalat, nyatanya akhlak kita masih belum mencerminkan insan muslim yang baik, maka kita harus tetap perbaiki shalatnya. Insyaallah dengan kita terus-menerus memperbaiki shalat, etika dan akhlak kita juga akan semakin membaik,” jelasnya.

Menutup tausyiahnya, Edi kembali mengingatkan pentingnya menyelaraskan hubungan vertikal dengan Allah melalui ibadah dan hubungan horizontal dengan sesama manusia melalui akhlak serta muamalah yang baik.

Ia berharap seluruh insan BMI senantiasa menjaga keseimbangan tersebut, tidak hanya menjadi pribadi yang baik dalam beribadah, tetapi juga baik dalam bersikap, bekerja, melayani anggota, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

“Poinnya adalah bagaimana akidah, syariah, dan akhlak ini berkorelasi. Kita tidak hanya sekadar berpikir bagaimana beribadah yang baik, tetapi juga bagaimana berperilaku yang baik. Bagaimana kita melayani anggota, bagaimana berinteraksi dengan anggota, dengan karyawan, dan dengan atasan, itu harus kita perhatikan. Sehingga nanti di akhirat kita tidak termasuk orang yang bangkrut,” pungkasnya. (Nur/Humas)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *