Bogor, Klikbmi.com: Di sebuah rumah kecil di Kampung Sawah Garung, Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Selasa pagi itu terasa berbeda. Udara masih basah oleh embun ketika Mak Onyih, 75 tahun, duduk di bangku kayu yang mulai mengelupas. Sorot matanya hangat campuran antara tak percaya dan bahagia. Di hadapannya, sejumlah karyawan Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) bersiap memulai peletakan batu pertama pembangunan Sanitasi Dhuafa untuk dirinya.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mak Onyih tak pernah membayangkan akan punya WC yang layak. Selama bertahun-tahun, ia hanya menggunakan bilik darurat berdinding terpal plastik. Sederhana, seadanya, tapi itu pun ia syukuri. “Saya mah nggak mau merepotkan anak,” ujarnya lirih. Putranya yang merawatnya, lelaki berusia 40-an yang bekerja serabutan, sudah memikul beban hidup yang tidak ringan. Penghasilan pas-pasan, rumah sederhana, dan ibu renta yang harus dijaga.
Karena itulah, ketika rombongan Kopsyah BMI datang, Mak Onyih tak bisa menahan getar suara. “Hatur nuhun, bapak-ibu Koperasi BMI… sebentar lagi Mak Onyih punya WC baru,” katanya sambil mengusap mata. Ada bahagia yang tak ia sembunyikan. Ada harga diri seorang ibu yang akhirnya diberi ruang bernapas,bahwa dirinya layak dibantu, layak mendapatkan fasilitas yang lebih manusiawi.
Peletakan batu pertama itu menjadi pemandangan yang jarang terjadi di kampung. Warga berdatangan, sebagian tak percaya bahwa bantuan ini diberikan meski Mak Onyih bukan anggota Kopsyah BMI. Hadir pula Sersan Kepala, Jhoni; Babinsa Sukaluyu, Aiptu Nanda; Babinkamtibmas; serta Loli, Kasie Satpol PP Tamansari. Mereka menyaksikan bagaimana koperasi hadir bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan gerakan sosial yang berpihak pada yang lemah.

Ketua BPD Desa Sukaluyu, Adi, menyampaikan hal yang sama. “Koperasi yang betul itu seperti BMI yang memberi manfaat untuk anggota dan masyarakat. Baru ini ada koperasi yang konsisten memberikan bantuan sanitasi. Harapannya, sinergi dengan desa bisa terus berjalan,” ujarnya. Kalimat itu mendapat anggukan dari warga, seolah menemukan representasi ideal koperasi yang selama ini mereka bayangkan.

terpisah, Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara, melihat pembangunan sanitasi dhuafa tidak hanya sebagai bantuan fisik, tetapi sebagai upaya mengembalikan martabat. “Setiap orang berhak hidup bersih, sehat, dan terhormat. Program ini adalah bagian dari ikhtiar kami menjaga martabat keluarga dhuafa dan saudara-saudara kita yang sudah uzur,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kambara itu menambahkan bahwa semangat koperasi bukan tentang angka atau transaksi, tetapi tentang kemanusiaan. “Koperasi dilahirkan untuk menolong. Ketika anggota atau masyarakat di sekitar kita hidup dalam keterbatasan, di situlah koperasi harus hadir. Itulah wajah sejati ekonomi gotong royong.” tuturnya
Kambara juga menegaskan bahwa Kopsyah BMI memandang sanitasi sebagai kebutuhan fundamental yang sering diabaikan. “WC layak bukan kemewahan. Ini kebutuhan dasar. Kalau negara belum sepenuhnya mampu memenuhi, maka koperasi harus membantu mengisi celah itu. Ini bukan sekadar CSR, ini ibadah sosial.” tambahnya.
Menutup pernyataanyanya, Kambara mengajak seluruh anggota dan masyarakat untuk terus menumbuhkan solidaritas. “Bantuan ini terwujud dari infak anggota. Inilah kekuatan kebersamaan. Selama kita memelihara semangat memberi, insyaAllah keberkahan itu kembali kepada kita semua.” tandasnya (Togar/Humas)
