Bogor, klikbmi.com: Suasana di Pamijahan, Bogor, siang itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan semata karena matahari yang mulai naik di balik perbukitan, tetapi karena halaman Masjid Baetannuur tampak ramai oleh warga yang datang dengan wajah berbinar. Suara anak-anak riang, para bapak bapak duduk rapi di dalam masjid
Di tengah keramaian itu, Kades Pamijahan, Abi Kusnadi, berdiri sambil menggenggam batu bata yang akan menjadi simbol dimulainya pembangunan Sanitasi Gratis Masjid, Mushola, dan Pesantren (Sanimesra) program sosial Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).
Di belakangnya berjajar para tamu dari Koperasi BMI Group diantaranya, Manajer Regional Hendrawan, Manajer Cabang Pamijahan Nuryatna, Dai Muamalah Solahuddin Al-Ayubi, dan Supervisor Kopsek BMI Ahmad Ridwan Batubara.
Begitu batu diletakkan, tepuk tangan pecah. Seolah warga sepakat bahwa hari itu bukan hanya soal pembangunan fasilitas wudhu melainkan tentang hadirnya harapan baru bagi desa.

“Bantuan ini sangat berarti,” kata Abi Kusnadi membuka sambutannya. Suaranya mantap, namun sesekali menahan haru.
“Terutama karena tidak ada alokasi dana desa untuk mendukung pembangunan fasilitas rumah ibadah. Dengan hadirnya BMI, insyaAllah kegiatan keagamaan di desa kita dapat berjalan lebih nyaman.” terangnya
Beberapa jamaah mengangguk. Mereka tahu betul bagaimana selama ini harus antre, bahkan kadang pulang ke rumah dulu hanya untuk berwudhu sebelum kajian.
Abi Kusnadi bukan orang baru dalam dunia koperasi. Pada tahun 1992, ia turut terlibat dalam pendirian koperasi syariah di wilayahnya. Maka ketika ia berbicara tentang koperasi, nada suaranya berubah lebih dalam, lebih meyakinkan.
“Saya memahami betul, koperasi itu bukan sekadar bisnis. Ada ruh sosial yang kuat. Dan saya melihat ruh itu hidup di BMI—membawa manfaat, keberkahan, dan kemaslahatan,” ujarnya disambut gumam setuju dari hadirin.
Sanimesra, baginya, bukan hanya pembangunan fisik. Ia membaca gerak yang lebih besar: semangat menghidupkan kembali nilai gotong royong dan kesejahteraan bersama lewat koperasi di Pamijahan.
Abi Kusnadi menyampaikan harapan yang sederhana tetapi kuat maknanya.
“Semoga silaturahmi dan kemitraan antara Pemerintah Desa dan Kopsyah BMI terus terjalin. Kami membuka diri untuk membangun desa bersama lebih maju, lebih mandiri, dan lebih sejahtera.”

Sementara Manajer regional Kopsyah BMI, Hendrawan, menyampaikan bahwa Sanimesra dibangun agar masjid dan majelis ta’lim tidak lagi terhambat oleh keterbatasan fasilitas wudhu dan MCK.
“Ini bagian dari upaya BMI dalam memuliakan tempat ibadah, memuliakan jamaah, dan memuliakan ilmu,” ujarnya.
Nuryatna, manajer cabang, menambahkan bahwa Pamijahan termasuk wilayah yang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan, sehingga fasilitas sanitasi yang memadai akan langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.
Sementara itu, Solahuddin Al-Ayubi mengingatkan bahwa memudahkan orang lain beribadah termasuk sedekah jariyah. “Selama tempat ini digunakan untuk ibadah, pahala akan terus mengalir,” tuturnya.
Warga kembali bertepuk tangan. Di luar masjid , beberapa pemuda langsung berdiskusi soal gotong royong untuk membantu pembangunan.
Sanimesra baru akan berdiri beberapa minggu ke depan. Namun bagi warga Pamijahan, harapan itu sudah melesat lebih dulu. Hari itu, sebuah batu pertama bukan sekadar pondasi bangunan tetapi pondasi kolaborasi, kepedulian, dan iman yang ditopang bersama.

Terpisah Direktur Utama Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara menegaskan bahwa Sanimesra bukan sekadar program fisik, tetapi bagian dari cara koperasi menghadirkan kebermanfaatan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Kami selalu percaya bahwa koperasi harus kembali pada rohnya: melayani, menyejahterakan, dan menebar keberkahan. Fasilitas sanitasi yang layak adalah hak setiap jamaah, dan tugas kita adalah memastikan itu hadir tanpa membebani masjid atau masyarakat,” ujarnya.
Kambara menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh agama, dan gerakan koperasi. “Sanimesra ini berdiri karena ada niat baik yang disambut baik. Ketika desa terbuka, masjid menerima, dan koperasi bekerja, maka lahirlah kemaslahatan. Ini bukti bahwa kesejahteraan tidak lahir dari satu tangan, tetapi dari bergandengannya banyak tangan,” tuturnya.
Kambara menutup dengan pesan agar fasilitas yang dibangun dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk jamaah dan kegiatan keagamaan. “Sanimesra ini milik umat. Kami hanya menjadi perantara. Semoga masjid Baetanuur menjadi pusat ibadah yang lebih nyaman, lebih bersih, dan lebih hidup. Dan semoga setiap tetes keringat yang terlibat dalam pembangunan ini menjadi amal jariyah yang tak pernah putus,” tutupnya (Togar/Humas)
