Jalan Jihad Ustadz Sholihin

Edu Syariah

Nasehat Dhuha Rabu, 27 April 2022| 25 Ramadhan 1443 H | Oleh : Ustadz Sarwo Edy, ME

Klikbmi.com, Tangerang – “Ayo berbaris, ayo berbaris,” ujar Ustadz Ahmad Sholihin dengan lantang kepada kumpulan orang di depannya. Mereka adalah para pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) Panti Rehabilitasi Sosial BMI-Darul Iman, Kampung Kawaron Girang, Desa Wanakerta, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang.

Tanpa menunggu perintah kedua, para pasien langsung berbaris di Majelis, tempat pasien berkumpul dan melaksanakan ibadah setiap hari.Bukan tanpa alasan para pasien ODGJ diminta untuk berbaris. Baru saja, ada sesorang yang masuk ke dalam rumah Ustadz Sholihin dan kembali ke mobil di halaman parkir.

Dari mobil yang terparkir, terlihat puluhan paket berwarna hijau menumpuk di bagasi mobil itu. Pria yang baru keluar itu adalah Casmita. Hari itu, Manajer Zakat, Infaq, Sadaqah dan Wakaf (ZISWAF) Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) membawa bingkisan lebaran. Bingkisan lebaran berisi Koko, Sarung, Peci dan juga kurma berasal dari Karyawan BMI untuk saudara-saudara ODGJ di sana.

 “Insya Allah seragam (koko, sarung dan peci) ini akan mereka pakai di lebaran nanti,” ujar Ustadz Sholihin.  

Ustadz Sholihin adalah ketua Yayasan LKS BMI Darul Iman. Yayasan yang saat ini disubsidi oleh Koperasi BMI sudah berdiri sejak setahun lalu. ” Alhamdulillah dari ikhtiar ini dan atas izin Allah SWT sudah ada enam orang yang sembuh dari panti ini, nggak depresi lagi, Schizofrenia (jenis gejala kejiwaan-red) juga sudah hilang,” terang Sholihin.

Sholihin mengatakan, dirinya tidak berangkat dari Pendidikan Psikiater di bangku kuliah untuk mengurus para pasien. Ia mengaku mendapat bekal ini saat menjadi seorang petualang. Sholihin lebih cocok menyebutnya sebagai petualang agama. ”Saya dulu sukanya menjadi petualang pak, petualang agama. Mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain,” jelasnya.

Setelah lulus SD, Sholihin langsung menimba ilmu di Pesantren di Serang di Tahun 1988. Ponpes itu diasuh oleh KH Damanhuri bin KH Arif. Seakan belum kenyang dengan ilmu yang ia dapat, ia melanjutkan petualangannya di beberapa pesantren hingga di Jasinga, Kabupaten Bogor. Ketika telah selesai pendidikan pesantrennya pada tahun 1994, ia memberanikan diri untuk mulai bekerja. 

Ustadz Ahmad Sholihin, Pengurus Panti Rehabilitasi Sosial BMI-Darul Iman Wanakerta, Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang.

Selain belajar agama dari beberapa pesantren tersebut, ia juga belajar peternakan. Dari hasil belajar itu, ia aplikasikan dengan menjadi peternak ayam broiler yang ia mulai dari tahun 2002 silam. Dan ia geluti usaha itu selama 15 tahun-an.

“Pada waktu itu (2004) , banyak  usaha peternakan ayam bangkrut karena flu burung. Akan tetapi peternakan saya masih aman dari krisis. Hingga akhirnya berita itu menyebar ke beberapa perusahaan Tidak berselang lama, beberapa tim khusus dari PT tersebut datang untuk menganalisa manajemen saya. Hal itu pulalah yang menjadi awal langkah saya menjadi konsultan peternakan.”Jelasnya menggambarkan tentang usahanya yang stabil.

“Dari sana banyak PT yang menyewa jasa konsultan saya. Dari Tangerang, Lebak, Serang, Pandeglang hingga Bogor telah saya datangi. Dari ratusan ekor hingga 100 ribu ekor pernah saya tangani,” terangnya.

Tapi hal itu tidak menyurutkan niat untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menyembuhkan orang yang sedang sakit kejiwaan. Di sela-sela menjadi konsultan, ia tetap menjalankan rutinitas itu. “Sebelum mendirikan Yayasan ini, saya sudah melakukan aktivitas mengobati pasien-pasien seperti sekarang ini sejak 2004. Tapi dengan cara door to door. Karena memang pada saat itu belum ada Yayasan. Itu saya kerjakan di sela-sela kesibukan menjadi konsultan” Ujarnya menceritakan kegiatannya sebelum mendirikan Yayasan ODGJ.

Penulis saat menyerahkan bingkisan lebaran dari Karyawan Koperasi BMI untuk Pasien ODGJ di Panti Rehabilitasi Sosial BMI-Darul Iman, Senin 25 April 2022.

Benang merah pun terjadi. setahun yang lalu menjadi sejarah untuknya. “Awalnya saya belum siap untuk mendirikan Yayasan (ODGJ) ini. Karena saya takut saya terlalu berharap dan memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan pribadi. Padahal cita-cita saya adalah menjadi yang bermanfaat untuk orang lain dengan apa yang saya punya. Tapi petuah guru saya selalu menjadi bayang-bayang dan yang menguatkan untuk menyelami “dunia kejiwaan” ini,” terang Sholihin menceritakan kisa awal berdirinya yayasan itu.

Untuk yang tidak mampu, sambung Sholihin, pasien ODGJ dibebaskan dari biaya alias gratis. ” Jika saya membebani mereka (tidak mampu-red), Ini sudah keluar dari jihad fi sabilillah. Ini sudah keluar dari ajaran Darul Iman. Oleh karena itu pasien disini tidak dibebani biaya. Jika mampu bisa bayar untuk beli obat dan makan, jika tidak mampu, maka saya gunakan subsidi silang. Tapi minta ridho-nya.” Jelasnya.

“Dengan tekad yang kuat saya mendirikan Yayasan ini. Dunia saya dulu (menjadi konsultan peternakan) yang membuat hidup saya dan keluarga nyaman dan sejahtera saya tinggalkan. Hanya dengan bermodalkan rumah saya dibantu istri dan teman saya, alex kami mulai perjuangan ini. Mungkin 90 persen perhatian saya curahkan untuk panti ini,” jelasnya.

Ustad Sholihin (kaos putih) di tengah penyerahan bingkisan lebaran dari Karyawan Koperasi BMI untuk pasien ODGJ.

Tersiarnya kabar bahwa dirinya mendirikan Yayasan ODGJ, membuat banyak orang menitipkan keluarganya dengan gangguan kejiwaan dengan bermacam-macam karakter dan latar belakang. Tapi sebagian besar dari mereka datang dari golongan tidak mampu.

“Dalam beberapa kesempatan kadang saya merasa sedih, kami benar-benar sendiri mengurus Yayasan ini. Kadang juga berpikir untuk makan mereka gimana, untuk obat gimana. Karena rata-rata pasien yang datang kesini adalah golongan tidak mampu. Tapi saya hanya bisa berdoa akan bisa istiqomah dalam menjalankan amanah ini, ” terang Sholihin mengisahkan betapa terjalnya perjuangan membangun panti itu dengan modal sendiri.

Pada Oktober 2021 lalu, Kopsyah melalui Manajer ZISWAF Casmita mengunjungi panti tersebut. Selain bersilaturrahim, Casmita juga melihat fasilitas panti yang sangat terbatas. Pada saat itu, pantinya baru dihuni 5 pasien.

”Majlis ta’lim tidak ada, WC cuma satu dan dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Dan tempatnya menyatu dengan kamar,” terang Sholihin mengisahkan kondisi panti saat dikunjungi BMI.

Tidak berselang lama, bantuan datang dari Kopsyah BMI melalui Divisi ZISWAF-nya. BMI membantu merenovasi Majlis Ta’lim, membangunkan Sanimesra gratis (Tempat Wudhu dan WC), merenovasi pagar serta kamar tidurnya.

”Setelah bantuan itu datang, tempatnya semakin rapi dan saya merasa terbantu sekali. Tidak cuma itu, Koperasi BMI juga memberikan insentif kepada saya tiap bulan untuk membantu operasional Yayasan ini,” jelasnya.

 “Seakan doa saya terkabul, Keberkahan itu datang ketika saya mengenal Koperasi BMI. Dengan sekarang majlis dzikir ini di bawah naungan BMI, banyak kegiatan yang ditunjang oleh BMI.

 Dengan bantuan yang ada menambah semangatnya untuk melakukan aktivitas sehari-hari mereka. “Pasien saat ini ada 21 orang. Sehari-hari mereka awali pagi dengan nyuci karpet dengan bergotong royong. Dilanjutkan dengan olahraga bersama-sama (ada instrukturnya) selama satu jam. Dilanjutkan dengan sarapan. Setelah sarapan pagi, mereka ngaji bareng sekitar jam 10-an. Di waktu sorenya, setelah sholat ashar berjamaah, mereka melanjutkan dengan ngaji bareng dan ditambah dengan mengobati penyakit. Habis sholat isya’ mereka wajib untuk langsung tidur untuk mengistirahatkan syaraf-syarafnya.” Ujarnya menggambarkan aktivitas sehari-hari mereka.

Pesan dari Ustadz Sholihin untuk sahabat Klik BMI News :

  1. Allah bersumpah demi waktu, maka gunakanlah sebaik-baiknya. Semua manusia bisa berbuat kebajikan yang patut. Apa yang bisa perbuat untuk kebaikan, maka lakukanlah.
  2. Ketika berbuat kebajikan, hilangkan hawa nafsu.
  3. Setiap perkara yang bagus menurut syara’ (agama) niatkan lillahi ta’ala. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya (sahnya) amal-amal perbuatan adalah hanya bergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya adalah karena Allah SWT dan Rasulu-Nya, maka hijrahnya dicatat Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia atau (menikahi) wanita, maka hijrahnya adalah (dicatat) sesuai dengan tujuan hijrahnya tersebut.” (HR. Bukhari)

Wallahu a’lam bish-showaab

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.