Jangan Terlalu Santai ! Kerja Cerdas, Keras, Ikhlas & Tuntas

Info ZISWAF

Nasehat Dhuha, Sabtu 20 Maret 2021 | 23 Hari Menuju Ramadhan 1442 H |Oleh : Sularto

Klikbmi, Tangerang – Dalam satu ceramahnya Habib Muhammad Albagir mengatakan kita tidak boleh terlalu santai. Kita harus mengedepankan kerja keras. Bahkan bagi para pendakwah, kita harus memiliki keahlian untuk mencari penghidupan. Kerja keras diperlukan untuk mendapatkan rizki Allah SWT. Kita yang punya keahlian berdagang bisa berdagang, yang punya keahlian memberikan jasa bisa memberikan jasa. Sesungguhnya pintu-pintu rizki akan terbuka jika kita bekerja dan tidak terlalu santai. Santai boleh jika memang pekerjaan sudah selesai.

Santai dalam pemahaman di sini adalah meluangkan waktu untuk beristirahat. Santai juga bisa kita maknai sebagai upaya rehat. Dalam Islam kita bisa memahami santai, adalah satu kondisi mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mencari ketenangan hidup. Kita bisa lebih bersantai dengan selalu beristighfar. Dengan selalu ingat akan banyak nikmat Allah SWT. Kita bisa lebih santai dengan bersyukur. Kita bisa lebih bersantai dengan bersedekah. Kita lebih bisa bersantai dengan selalu membuat segala waktu bernilai ibadah.

Ternyata satu karakter yang tidak ditinggalkan oleh Islam melalui ajaran Rasulullah SAW adalah umat Islam wajib bekerja keras. Umat Islam tidak diizinkan untuk bermalas-malasan, generasi Islam tidak boleh miskin karena malasnya, tapi harus kaya dengan kerja kerasnya. Berbagai ayat-ayat Al-Qur’an yang menceritakan tentang bagaimana wajibnya kita bekerja keras. Salah satu ayatnya adalah dalam surat At-Taubah ayat 105 yang artinya, “Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga RasulNya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Dalam surat An-Naba’ misalkan, Allah Swt berfirman “Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan”. Dalam surat lain, Al-Jumu’ah ayat 10, “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”. Tidak ada alasan bagi seorang muslim setiap selesai sholat, dzikir, do’a, lalu tidur. Bahkan dalam ayat lain kata Allah Swt, ketika telah selesai satu pekerjaan, kerjakan pekerjaan yang lain. Artinya Islam sangat menyoroti yang namanya kerja keras. Umar bin Khattab pernah mewasiatkan kepada umat muslim umumnya, dan kepada para sahabat ketika itu khususnya. “Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya”. Artinya kita harus terus memberikan kemampuan kerja keras kita, kemampuan berpikir kita, untuk mencapai sebuah kehidupan dunia yang seakan-akan kita meyakininya kita hidup selamanya. Kalau kita hidup selamanya, berarti kita butuh bekal untuk hidup yang begitu lama. Namun dalam kalimat berikutnya, “Namun ingat, bekerjalah kamu untuk akhiratmu, dan yakini seakan-akan kamu mati esok hari”. Kalimat tersebut merupakan ungkapan, bukan hadits seperti yang diketahui banyak orang.

Artinya bekerja untuk dunia dan bekerja untuk akhirat sama-sama harus diberikan totalitas yang sangat besar. Tidak ada istilah malas, tidak ada istilah tidur-tiduran. Silahkan kita buktikan, siapa orang Islam yang paling kaya di dunia ini? Apakah dia tidur-tiduran untuk mendapatkan kekayaannya? Siapakah umat Islam yang paling sukses di dunia ini? Apakah kesuksesannya didapatkan dengan tidur-tiduran? Atau malah orang kafir sendiri, siapa orang Tionghoa misalkan yang kaya raya, yang sukses dalam dunianya, tapi dia dapatkan dengan tidur-tiduran, dengan bermimpi? Tidak ada. Dan ini disoroti oleh agama Islam. Karakter bekerja keras disoroti oleh agama Islam.

Lalu yang membedakan antara kita umat Islam dengan orang-orang barat ketika bekerja keras, tentu ada beberapa hal. Yang pertama, bagi kita umat Islam ketika kita bekerja keras, kita pastikan, yang kita kerjakan itu halal. Pedagang, berdagang, menjual nasi, itu halal. Tapi ketika dia melakukan tipuan dalam dagangnya, maka dia berubah menjadi haram karena hal lain.

Tapi ada pekerjaan yang haram secara zatnya, contoh menjual minuman keras. Apapun alasannya menjual minuman keras tetap haram. Meskipun niatnya untuk menginfaqkan hasil daganannya untuk pembangunan masjid, tetap haram. Dalam Islam ini harus dipilah-pilih, tidak boleh disamakan. Tidak semua pekerjaan halal bagi kaum muslimin, dan tidak juga semua pekerjaan haram bagi kaum muslimin. Kalau untuk mendapatkan rahmat Allah Swt maka kerja keras yang diperintahkan oleh Allah Swt tentu niatnya mencari dunia untuk mendapatkan akhirat, tentu yang halal.

Yang kedua, jadikan kerja keras kita itu sebagai ibadah kepada Allah, dengan meniatkan untuk mendapatkan ridho dari Allah Swt. Itu yang membedakan kita dengan orang barat. Ketika kita keluar dari rumah mengucapkan bismillaahirrahmaanirrahiim, itu merupakan niat utama kita untuk mencari nafkah, bekerja keras untuk menafkahi keluarga kita, untuk mendapatkan nilai ibadah dari Allah Swt.

Prinsip selanjutnya, ketika kita mencari nafkah, ketika kita bekerja keras, niatkan untuk menafkahi diri kita, keluarga kita, dan kalau bisa membebaskan orang-orang miskin lainnya dengan kerja keras kita. Hal ini disoroti oleh agama Islam dalam surat Al-Ma’un. Banyak pekerja keras kata Allah, tapi dia tergolong kepada pendusta agama. Karena hasil kerja kerasnya tidak bisa dimanfaatkan oleh anak-anak yatim, oleh orang-orang miskin. Prinsip kerja keras, karakter kerja keras dalam Islam harus bisa menghasilkan kerja keras yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak yatim, dan harus dapat dimanfaatkan oleh orang-orang miskin.

Kita bisa menanamkan dalam hati kita bahwasanya kerja keras, berusaha untuk mendapatkan nilai-nilai dunia sebagai wasilah untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat adalah wajib. Dan Rasulullah menanamkan bahwa tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Untuk menciptakan diri kita sebagai orang dengan tangan di atas, tentu dngan bekerja keras. Jika mau mendapat derajat sama dengan orang-orang yang tangan di bawah tentu hanya dengan bermalas-malasan.

Kerja Cerdas Kerja Keras Kerja Ikhlas Kerja Tuntas, Jangan Terlalu Santai !Mari perbanyak sedekah melalui Rekening ZISWAF KOPSYAH BMI : 7 2003 2017 1 (BNI Syariah)  a/n Benteng Mikro Indonesia. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.