Kamaruddin Batubara : “Bermuamalah Bukan Sekedar Untung dan Rugi”

BMI Corner

Klikbmi.com,Tangerang – Maraknya bank keliling alias bank emok atau apapun namanya semakin meresahkan warga Tangerang. Banyak warga masyarakat yang terdampak kebijakan yang tidak solutif dan cenderung merugikan lahir dan batin. Seperti yang terjadi di daerah Pakuhaji beberapa waktu lalu. Sejumlah warga mengeluh dan merasakan himpitan beban luar biasa karena beberapa orang tidak mampu lagi membayar sejumlah angsuran kepada beberapa lembaga keuangan sekaligus.Akibatnya terjadi gejolak sosial yang tajam dan memaksa sejumlah LSM turun tangan untuk membantu memfasilitasi warga dengan pihak Lembaga Keuangan. Kasus lain seperti terjadi di Desa Pekayon, Kecamatan Sukadiri. Sejumlah warga menolak kehadiran Bank keliling yang dianggapnya sebagai rentenir masuk ke wilayah itu. Penolakan itu dibuktikan dengan pemasangam spanduk yang berisi penolakan kepada bank keliling atau rentenir masuk ke wilayah mereka. Solihin, Ketua RW 04 Desa Pekayon mengatakan bahwa warga sudah resah dan menolak kedatangan bank keliling atau rentenir ke wilayah mereka. ” Kami sudah banyak jadi korban. Banyak warga yang terlilit hutang bahkan sampai menjual rumahnya dan pergi menjadi gelandangan. Miris sekali. Pihak bank keliling jangan hanya mencari untung saja tapi bagaimana manfaatnya untuk kita, gak ada. Berbeda sama Kopsyah BMI yang sejak 2003 waktu itu masih bernama LPP UMKM sudah berkontribusi nyata, membangun jembatan pekayon, sosialisasi di gedung desa, membangun rumah dan sebagainya. Jadi jangan hanya cari untung di sini tapi menekan warga kami, ” tegas Solihin.

Spanduk Penolakan terhadap Bank Keliling (rentenir) di Desa Pekayon, Sukadiri (Foto : Klikbmi)

Fenomena tersebut menjadi perhatian serius dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). Presiden Direktur Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara menilai bahwa semua pihak tidak bisa saling menyalahkan satu sama lain. ” Ini semua harus di edukasi. Masyarakat yang menjadi objek harus mendapatkan edukasi untuk mendapatkan pinjaman atau pembiayaan sesuai kadar kemampuannya. Harus mengukur kapasitasnya, jangan sampai over financing yang justru akan membuat sulit ke depannya. Faktanya setelah diverifikasi ke lapangan, satu orang bisa meminjam sampai lima lembaga keuangan sekaligus.bagaimana bisa sanggup untuk membayar angsurannya? ” Ujar Kamaruddin kepada Klikbmi.com. Selain warga masyarakatnya, pihak lembaga keuangan nya pun harus mendapatkan edukasi agar jangan hanya mencari untung saja, tetapi harus menjalankan peran sosialnya dengan adil.” Kita gak bisa serta merta menyalahkan lembaga keuangannya, harus dilihat dulu pola eksekusi mereka di lapangan seperti apa. Ajaklah duduk bersama ketika ada bagian yang memang harus didiskusikan untuk mencari solusi “Ujar Kamaruddin lebih lanjut. Kamaruddin juga menegaskan bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) jangan ujug ujug menyalahkan dan menyerang lembaga keuangannya, tetapi harus objektif menilai dan menganalisa permasalahan secara komprehensip.” Kesan yang ada kan sekarang begitu. Nah saya apresiatif terhadap BPPKB ( Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar ) Banten ini yang menyelenggarakan diskusi terkait fenomena tersebut waktu di Pakuhaji. Memang harus ada diskusi untuk mencari solusi. Berikan kritik yang sifatnya konstruktif jangan destruktif. Saya dapat laporan dari team Kopsyah BMI waktu itu,BPPKB ini sangat mengerti dan paham permasalahan yang ada.tidak subjektif dan pukul rata. Selama ini mungkin baru kita yang menjalankan peran sosial. Sebagai koperasi, kita memiliki anggota. Hakikatnya kalo anggota artinya diperlakukan sebagai keluarga. Ketika timbul masalah di keluarga, ya kita cari tahu dulu permasalahannya apakah harus dibantu langsung atau di edukasi terlebih dahulu, ” Ujar Kamaruddin Batubara. Menurut Kamaruddin tantangan yang terbesar adalah mengedukasi masyarakat untuk pandai memilih dan memilah dalam mengakses lembaga keuangan yang ada. ” ini tantangan buat kita semua termasuk LSM. Kita harus edukasi masyarakat agar pintar memilih dan memilah. Yang kedua kita edukasi juga lembaga keuangannya supaya tidak semena mena” Ujar Kamaruddin dalam diskusi santai bersama pengurus BPPKB di Kopi Rindoe Benteng , Gerai Tangerang Gemilang ,Jumat (7/2).

Lebih lanjut Kamaruddin juga mengatakan bahwa seharusnya koperasi atau lembaga keuangan lain yang ada harus mengembangkan juga usaha yang berbasis kearifan lokal.” Seperti kopi dongkrak ini, ini hasil research, khas dari Tangerang. Kita kembangkan di Kopi Rindoe Benteng ini, ” Ujar Kamaruddin. Selain berbasis kearifan lokal, usaha yang dikembangkan pun harus menyerap tenaga kerja yang memprioritaskan warga setempat.” Di koperasi BMI hampir 50 persen karyawan adalah anak anggota . Muamalah itu bukan sekedar untung dan rugi, tapi concern ke pemberdayaan juga. Nah. Kami punya Kopmen BMI dimana ada sekitar 340 tukang yang kerja di sini. Hanya 20 persen saja yang asli dari Banten, mayoritas dari luar Banten yaitu dari Lampung dan Jawa. Ini jadi peer kita semua. LSM juga harus bisa membantu ini, misalnya memberikan pelatihan dan keterampilan yang memadai kepada kelompok tadi sehingga bisa diakses oleh dunia kerja, ” ujar Kamaruddin Batubara.

Presiden Direktur Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara (kedua kanan) didampingi Manager Ziswaf Kopsyah BMI, Casmita (Paling kanan) Berdialog dengan Biro Hukum BPPKB Banten Ranting Pakuhaji, Denny Kusumah (Ketiga Kanan) di Cafe Kopi Rindoe Benteng, Jumat (7/2) Foto : Dede/Klikbmi

Sementara itu Denny Kusumah, Biro Hukum LSM Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten di Pakuhaji, mengatakan dalam dialog tersebut bahwa awalnya dirinya dan BPPKB memfasilitasi pertemuan warga Pakuhaji dengan lembaga keuangan yang ada dan beroperasi di wilayah tersebut.” Banyak keluhan warga dari yang paling ringan sampai paling pelik. Bahkan ada minta tolong kepada kami untuk dibantu dengan pemutihan pembiayaan. Kita bantu bedah debitur ataupun anggota, bagaimana permasalahan sebenarnya dan jangan sampai nilai nilai luhur dan instrumen pemberdayaan koperasi ini jatuh karena hal yang tidak baik dampaknya di masyarakat. Banyak lembaga keuangan yang memaksakan kehendak di luar kemampuan nasabahnya yang sedang kesulitan.akibanya fatal.banyak warga yang hancur usahanya bahkan kehidupan rumah tangganya berantakan karena tekanan ekonomi ” Ujar Denny. Lebih lanjut Denny mengatakan bahwa pada saat BPPKB memfasilitasi pertemuan warga, berbagai lembaga keuanganya yang ada, aparat pemerintahan di Pakuhaji beberapa waktu lalu dalam sebuah diskusi, semua sepakat meminta agar lembaga keuangan yang ada jangan menekan warga yang sedang kesulitan dengan cara memaksa untuk bayar cicilan saat itu juga.” Berikan kemudahan dan kelonggaran. Dan betul memang kita juga tidak menutup mata, warga juga banyak yang salah kaprah. Mereka berani meminjam lebih dari satu, bahkan sampai lima pinjaman ke lembaga keuangan lainnya dalam waktu yang hampir bersamaan, akibatnya mereka kesulitan untuk membayar angsuran. Betul kata Pak Kamaruddin Batubara, perlu edukasi agar masyarakat bisa mengakses pembiayaan dengan tepat dan sesuai kapasitasnya” ujar Denny .

Menurut Denny pada diskusi yang berlangsung beberapa waktu lalu di Pakuhaji, berbagai lembaga keuangan yang hadir diminta tanggapannya terkait kondisi warga dan pola pola usaha yang dikembangkan . Dari semua lembaga keuangan yang hadir, menurut Denny hanya Kopsyah BMI yang memaparkan pola pemberdayaan yang benar benar menyentuh rasa keadilan.” Pak Roni dan Pak Casmita waktu itu presentasi tentang instrumen pemberdayaan Kopsyah BMI, akhirnya karena menyentuh perasaan warga yang butuh konsep solutif seperti itu, diskusi itu berubah seakan akan seperti seminar saat petugas Kopsyah BMI memaparkan pandangannya. Saat itu panggung benar benar milik Kopsyah BMI ” kata Denny lebih lanjut.

Manager Ziswaf Kopsyah BMI, Casmita yang ikut pertemuan itu mengatakan bahwa Kopsyah BMI selalu mengedepankan bisnis yang jujur, berdaya guna dan pro terhadap kesejahteraan anggota. Dengan lima instrumen pola pelayanan melalui sedekah, pinjaman, pembiayaan, simpanan dan investasi untuk mencapai kemaslahatan dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan spiritual.(AH/klikbmi)

Share on:

2 thoughts on “Kamaruddin Batubara : “Bermuamalah Bukan Sekedar Untung dan Rugi”

  1. Alhamdulillah, semoga masyarakat bisa memilih mana yang lebih bisa mendatangkan manfaat untuk dunia dan akhiratnya. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.