Kisah Hatta dan Sepatu Bally

Edu Syariah

Nasehat Dhuha Rabu, 8 Desember 2021 | 3 Jumadil Awal 1443 H | Oleh : Tim Humas

Klik, Tangerang  – Proklamator Republik Indonesia dan Wakil Presiden Indonesia pertama yakni Mohammad Hatta sangat dikenal dengan kesederhanaanya. Sikap itu ia tunjukkan baik sebelum, saat, hingga saat ia melepaskan jabatan sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia.

Dalam buku ”Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa” karya Faisal Basri dan Haris Munandar menuliskan cermin kesederhanaan Bung Hatta tentang keinginannya membeli sepatu Bally.

Setelah perang dunia kedua hingga tahun 1950-an, sepatu merek Bally sangat terkenal di Indonesia dan membuat Bung Hatta terpikat. Sayang, harganya tidak murah. Suatu hari, ia tak sengaja ia membaca iklan sepatu asal Swiss itu di koran. Di dalamnya ada iklan dan tempat penjualan sepatu tersebut.

Hatta yang saat itu tak memiliki cukup uang, lalu menggunting dan menyimpan potongan iklan tersebut di dompetnya. Hatta punya maksud agar jika sudah ada rejeki nanti maka dia tak perlu repot-repot mencari tempat di mana sepatu itu dijual.

Sayangnya, uang tabungan Hatta tidak pernah mencukupi. Selalu saja terpotong untuk keperluan rumah tangga, atau untuk membantu kerabat yang datang meminta pertolongan.

Hingga akhir hayatnya, Hatta tidak pernah memiliki sepatu merek Bally yang diimpikannya. Tak lama setelah wafat pada 14 Maret 1980, keluarga Bung Hatta menemukan lipatan guntingan iklan lama dalam dompetnya. Iklan itu adalah iklan sepatu merek Bally, yang dulu disimpannya.

Bung Hatta memilih untuk tidak memilikinya. Padahal, dengan jabatannya sebagai wakil presiden, apalagi dia juga berasal dari keluarga yang tak kekurangan, bukan perkara sulit untuk mendapatkan sepatu itu.

Kendati demikian, Hatta bersikukuh memilih untuk tidak memilikinya karena dia memilih untuk hidup sederhana. Selain sifat sederhana, Hatta juga dikenal sebagai tokoh yang bersih dan jujur.

Hal ini ditunjukkan Hatta ketika memarahi sekretarisnya saat di pemerintahan, I Wangsa Wijaya, yang menggunakan tiga lembar kertas Sekretariat Negara (Setneg).

Wangsa menggunakan kertas itu untuk membuat surat kantor wapres. Hatta kemudian mengganti tiga lembar kertas Setneg tersebut dengan uang kas wapres. Meski terkesan receh, Hatta selalu berusaha untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Kertas usang di dompet Hatta menjadi saksi kesederhanaan seorang Hatta, Sang Proklamator Republik Indonesia dari negeri Andalas tersebut.

Dari kisah Hatta tentunya kita bisa mengambil betapa besarnya nilai menjaga harga diri dan kehormatan kita. Orang yang beriman itu pantang meminta-minta. Orang beriman itu meyakini bahwa rezeki Allah itu pasti ada bagi setiap hamba-Nya. Tinggal bagaimana rezeki itu dijemput dengan cara yang sesuai yang Allah ridhoi. Tidak masalah jikalau kita hidup sederhana. Namun, akan jadi masalah kalau hidup kita terbiasa dengan meminta-minta. Tidak masalah hidup alakadarnya, namun terhormat karena harga dirinya terpelihara.

Menjaga harga diri itu bukan urusan gengsi. Namun, menjaga harga diri adalah ikhtiar kita untuk membuktikan keyakinan kita tentang jaminan Allah SWT. Seekor burung saja yang terbang dari sarangnya di pagi hari, akan pulang ke sarangnya di sore hari dalam keadaan kenyang. Apalagi kita manusia yang Alloh ciptakan secara sempurna lengkap dengan akal pikiran.

Oleh sebab itulah mengapa Rasululloh SAW selalu meninggikan nilai orang yang bekerja keras, meskipun pekerjaannya kasar demi menghindarkan dirinya dari meminta-minta, dan Rosululloh Saw. mensejajarkannya dengan jihad fii sabilillah. Allahu akbar!

Contoh hidup sederhana dari Rasulullah SAW juga tercermin dari doa-doanya yang beliau panjatnya. Nabi SAW pernah dalam doanya meminta rezeki kepada Allah SWT sesuai kebutuhan pokok secukupnya saja.

Ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا

Artinya: “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya” (HR. Muslim)

Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah Swt. yang memiliki keyakinan kokoh kepada-Nya, dan terampil bekerja serta memelihara harga diri dan kehormatan kita. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888.

(Togar Harahap/Klikbmi)

Share on:

1 thought on “Kisah Hatta dan Sepatu Bally

  1. Mirip mirip juga dengan pengalaman pribadi, namun beda merk,, sepatu skecher kalau saya,, belum di check out- check out masih di keranjang tokopedia saja sekian lama,, hehehe,, tp InsyaAllah semua yang menjadi rezeki kita pasti akan datang ke kita, bagaimana pun cara nya, begitu juga sebaliknya,, yg utama taat kepada Allah dalam Beribadah,, semoga Yang maha kuasa, memberikan waktu serta petunjuk untuk dapat selalu beribadah kepada Nya Amiiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.