Kita Semua Bertanggung Jawab Dalam Dakwah, Mari Tetap Bijak Dalam Dakwah

Edu Syariah

Nasehat Dhuha  Kamis,  25 November 2021 | 19 Rabiul  Akhir 1443 H | Oleh :  Sularto

Klikbmi, Tangerang – Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang harus didakwahkan kepada seluruh umat manusia. Jadi Islam dan dakwah adalah dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Islam sebagai agama dakwah akan melahirkan dakwah, maka berdakwah berarti menghidupkan dan mengembangkan agama Islam.

Islam adalah agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah, bahkan maju mundurnya umat Islam sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya. Dakwah adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang bersifat menyeru atau mengajak kepada orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam secara benar dan sungguh-sungguh.

Oleh karenanya kita semua yang saat ini memeluk Islam sangat bertanggung jawab untuk menjadikan dakwah sebagai jalan hidup kita. Dakwah harus dipahami secara luas. Kita yang saat ini menjadi pegiat ekonomi syariah juga harus terus mendakwahkan ekonomi syariah secara benar. Terus kita ajak semua orang untuk terlibat dalam kegiatan ini. Dakwah memiliki urgensi baik itu dalam kaitannya dengan sesama manusia maupun hubungannya dengan ibadah langsung kepada Allah SWT.

Mari kita perhatikan petikan cerita singkat ini. Suatu hari, Rasulullah SAW mengutus Hathib bin Balta’ah untuk memberikan surat kepada raja Mesir yang beragama Nasrani, yakni raja Muqauqis. Surat itu berisi seruan kepada Islam. Setelah tiba di Mesir, Hathib menyerahkan surat itu kepada Muqauqis. Muqauqis lalu membuka dan membacanya. Tidak lama kemudian, ia bertanya kepada Hathib. “Kalau betul dia seorang Nabi, mengapa ia tidak mendoakan saja orang-orang yang mengingkarinya dan mengusirnya dari negerinya itu, supaya dibinasakan saja?”

Mendengar pertanyaan itu, Hathib menjawab. “Kalau demikian, mengapa Nabi Isa juga tidak mendoakan saja kepada Allah, supaya membinasakan kaumnya, padahal mereka sudah menangkapnya untuk membunuhnya?” Mendengar jawaban Hathib, Muqauqis terpana dan berkata, “Betul. Tuan adalah seorang hakim (mempunyai hikmah) yang datang dari lingkungan seorang hakim. Sesungguhnya kami menganut satu agama, dan kami tidak akan melepaskannya, kecuali ada sesuatu yang lebih baik dari itu,” jelas Muqauqis.

“Ini bukan soal menukar agama, tapi kami menyeru tuan kepada agama Islam yang Allah mencukupkan dengannya, yang lebur di dalamnya agama selainnya. Sesungguhnya Nabi ini menyeru manusia; maka yang paling keras menentangnya adalah Quraisy, yang paling memusuhi mereka adalah Yahudi, dan yang paling dekat adalah kaum Nasrani.” Hathib melanjutkan, ”Demi Zat yang umurku di tangan-Nya, apa yang dikabarkan oleh Musa tentang Isa, tidak berbeda dengan apa yang dikabarkan oleh Isa tentang Muhammad. Dan seruan kami kepada tuan supaya percaya kepada Alquran. Tidak berbeda dari seruan tuan kepada ahli Taurat supaya percaya kepada Injil.”

Hathib berkata, “Setiap Nabi telah sampai kepada satu kaum dan kaum itu adalah umatnya maka wajib atas mereka menaatinya, dan tuan termasuk orang-orang yang didapati oleh Nabi itu. Dan bukanlah kami melarang tuan dari agama al-Masih (menyuruh mengingkari Nabi Isa), tetapi kami menyuruh tuan berbuat demikian (tetap mengakui Isa sebagai Nabi).” Mendengar penuturan Hathib, Muqauqis pun berkata, “Ya, kudapati padanya tanda-tanda kenabian, yakni dengan mengeluarkan apa yang tersembunyi dan mengabarkan apa yang rahasia. Aku akan memikirkannya dahulu.”

Kemudian, surat itu disimpan dalam sebuah kotak, lalu ia membalasnya dengan kata-kata yang baik dan hormat. Surat balasan itu dititipkan kepada Hathib bin Balta’ah beserta beberapa hadiah untuk Rasulullah SAW, sebagaimana yang lazim dilakukan menurut adat kebiasaan raja-raja di zaman itu. Kisah di atas menjadi contoh bagi kita untuk mendakwahkan Islam dengan hikmah (kebijaksanaan). Islam bukanlah racun yang merusak dan mematikan manusia, tetapi obat penawar yang menyembuhkan penyakit kemaksiatan dan kedurhakaan menjadi ketaatan dan ketundukan.

Mari kita perhatikan bunyi QS An Nahl ayat 125 di bawah ini :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Dalam menyampaikan ilmu dan mengajak umat tentu tetap harus dengan bijak agar yang kita ajak juga ikutan dengan sukarela dan dengan pemahaman yang utuh. Mari berdakwah dengan hikmah atau bijaksana agar orang yang mendengar seruan dakwah kita bisa memahami dan mengakui kebenaran Islam. Wallahu a’lam.

Mari tetap ikhtiar terbaik dan berikan dari sebagian rejeki kita untuk orang yang membutuhkan. Insyallah rejeki yang kita terima akan berkah. Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *