Nasab Tuhanmu

Edu Syariah

Nasehat Dhuha Senin, 24 Januari 2022| 16 Jumadil Akhir 1443 H | Oleh :  M Reza Prima, ME

Klikbmi, Tangerang – Masyarakat Arab Quraisy -sebelum kedatangan Islam- adalah masyarakat yang memiliki beragam keyakinan dan kepercayaan. Bahkan mereka memiliki banyak tuhan yang disembah. Sebenarnya -sebagian- mereka menyakini Allah sebagai Tuhan yang memberi rezeki, menciptakan pendengaran dan penglihatan, mengatur alam semesta, namun mereka tetap mempersekutukan Allah dengan selainNya, maka Allah tegur dengan perintahnya kepada Muhammad, “Katakanlah Muhammad, sampaikanlah kepada mereka, afala tattakun, mengapa mereka tidak bertaqwa, mengapa mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah dan mentauhidkanNya.”  (lihat Q.S. Yunus/10: 31).

Mereka memiliki keyakinan selain Allah juga dapat mendatangkan manfaat, keberuntungan, rezeki, hujan, sebagaimana Allah; menghilangkan kemudharatan, marabahaya, kesialan; padahal ini adalah hak khusus Allah, artinya hanya Allah yang mampu dan selainNya -layaknya makhluk ciptaanNya- tidak mampu dan tidak memiliki daya upaya sama sekali. Mereka juga mempersekutukan – memperserikatkan Allah dengan selainNya dalam amal perbuatan, mereka berdoa-meminta kepada pohon keramat (Dzatu Anwat, lihat riwayat Abu Waqid Al-Laitsi daam Sunan Tirmidzi), bebatuan (latta di Thaif), pepohonan (uzza di Nakhlah), berhala berupa patung (lihat Q.S. An-Najm/53: 19-20), dan berbagai bentuk kesyirikan amal perbuatan lainnya. Hal ini dikarenakan tuhan yang mereka sembah-mohon pertolongan, sangat beragam. Ini juga dasar yang membuktikan bahwa orang musyrik Makkah adalah kaum yang prulalis dan menganut pluralisme dalam ketuhanan.

Namun, sebagian masyarakat Arab Quraisy ada pula yang tidak bertuhan. Mereka tidak menyakini adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Karena menurut mereka alam semesta ini tercipta karena proses panjang yang dialami alam semesta lalu berevolusi selama beribu ribu tahun hingga membentuk kehidupan seperti yang kita temui sekarang ini. Mereka menyakini bahwa kehidupan hanya di dunia saja, tidak ada akhirat, kematian disebabkan karena memang sudah waktunya mati (lihat, Q.S. Al-Jatsiyah/45: 24). Menurut sangkaan mereka, hipotesa mereka, dunia ini akan mengalami daur ulang atau siklus hidup. Mereka meyakini bahwa setiap tiga puluh enam ribu (36.000) tahun segala sesuatu akan kembali seperti semula. Mereka juga disebut kaum dahriyah (lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini).

***

Ketika Rasulullah SAW berdakwah di Makkah, datang orang-orang quraisy bertanya tentang Tuhan yang disembah Rasulullah Muhammad SAW. Mereka mempertanyakan Tuhan seperti apa yang disembah Muhammad lalu mereka bertanya penasaran, انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ “Sebutkan kepada kami Tuhanmu ya Muhammad?” (lihat dalam Tafsir Al-Baghawi) Mereka berpikir bahwa Tuhan yang disembah Muhammad adalah Tuhan yang memiliki nasab garis keturunan. Padahal, jika demikian adanya, maka Tuhan yang disembah memiliki orangtua dan anak? Jika memiliki anak maka ia harus memiliki istri, karena tidak mungkin ia akan beranak dengan sendirinya, akal pasti akan menolak itu. Jika Tuhan yang disembah diperanakkan atau dilahirkan, maka ia akan mengalami siklus, diperanakkan, lalu tumbuh menjadi anak, selanjutnya dewasa dan menikah, kemudian beranak dan mengalami masa tua dan mati. Apakah Tuhan layak mati? Dan kalau mati apakah ketuhannya akan diwariskan kepada anak Tuhan? Dalam Tafsir Al-Baghawi, Imam Al-Baghawi Asy-Syaf’i menyebutkan riwayat Abul ‘Aliyah dari Ubay bin Ka’ab, bahwa beliau berpendapat:

رَوَى أَبُو الْعَالِيَةِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ السُّورَةَ

Abul ‘Aliyah meriwayatkan dar Ubay bin Ka’ab bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah SAW, “CERITAKAN KEPADA KAMI NASAB GARIS KETURUNAN TUHAMU” maka turunlah surat Al-Ikhlash. Riwayat asbabun nuzul ini bisa dilihat dalam Sunan Tirmidzi pada Tafsir Surat Al-Ikhlas 9/299-300. Imam Ahmad 5/134.

Selain pendapat Ubay bin Ka’ab diatas, Imam Ibnu katsir dalam tafsirnya juga menuliskan pendapat Ikrimah yang menjelaskan sebab yang melatar belakangi turunnya surat Al-Ikhlas:

قَدْ تَقَدَّمَ ذِكْرُ سَبَبِ نُزُولِهَا. وَقَالَ عِكْرِمَةُ: لَمَّا قَالَتِ الْيَهُودُ: نَحْنُ نعبد عُزيرَ ابْنَ اللَّهِ. وَقَالَتِ النَّصَارَى: نَحْنُ نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ. وَقَالَتِ الْمَجُوسُ: نَحْنُ نَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. وَقَالَتِ الْمُشْرِكُونَ: نَحْنُ نَعْبُدُ الْأَوْثَانَ -أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}

Asbabun Nuzul surat ini telah disebutkan sebelumnya. Ikrimah mengatakan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, “Kami menyembah Uzair anak Allah.”Orang-orang Nasrani mengatakan, “Kami menyembah Al-Masih putra Allah.” Orang-orang Majusi mengatakan, “Kami menyembah matahari dan bulan.” Dan orang-orang musyrik mengatakan, “Kami menyembah berhala.” Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah ya Muhammad, permaklumkan kepada mereka orang-orang musyrikin Quraisy. “Dialah Allah Yang Maha Esa (baca, satu-satunya Tuhan-diambil dari kata ‘Ahad’).” [Q.S. Al-Ikhlas/112: 1]

Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menafsirkan surat Al-Ikhlash dengan penjelasan berikut: Inilah pokok pangkal akidah, puncak dari kepercayaan. Mengakui bahwa yang dipertuhan itu ALLAH namaNya. Dan itu adalah nama dari Satu saja. Tidak ada Tuhan selain Dia. Dia Maha Esa; mutlak Esa, tunggal, tidak bersekutu yang lain dengan Dia. Pengakuan atas Kesatuan, atau Keesaan, atau tunggalNya Tuhan dan namaNya ialah Allah, kepercayaan itulah yang dinamai TAUHID. Berarti menyusun fikiran yang suci murni, tulus ikhlas bahwa tidak mungkin Tuhan itu lebih dari satu. Sebab Pusat Kepercayaan di dalam pertimbangan akal yang sihat dan berfikir teratur hanya sampai kepada SATU. Tidak ada yang menyamaiNya, tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak pula ada teman hidupNya. Karena mustahil-lah kalau Dia lebih dari satu. Karena kalau Dia berbilang, terbahagi-lah kekuasaanNya. Kekuasaan yang terbagi, artinya sama-sama kurang berkuasa.[ ]

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.