Jakarta, Klikbmi.com: Nama Mohammad Hatta kerap disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Tapi di balik gagasan besar Bung Hatta, ada sosok lain yang ikut menggerakkan roda ekonomi kerakyatan, Ialah Samsi Sastrawidagda. Ia bukan hanya sahabat intelektual Hatta, tapi juga pengusung ide koperasi yang lantang di era kemerdekaan. Samsi Sastrawidagda merupakan Menteri Keuangan Repubik Indonesia pertama (2 September hingga 26 September 1945).
Lahir dari semangat membangun bangsa, Samsi menaruh harapan besar pada koperasi sebagai jalan keluar dari sistem ekonomi kolonial yang timpang. Ia dan Hatta . Pada Agustus 1925 pergi ke tiga Negara Skandinavia: Denmark, Swedia, dan Norwegia untuk belajar tentang praktik masing-masing koperasi pertanian, koperasi konsumsi, dan koperasi perikanan di negeri Nordik tersebut.

Dalam berbagai catatannya, Samsi menyebut koperasi sebagai “alat perjuangan ekonomi rakyat”. Bukan sekadar badan usaha, tapi gerakan moral yang mengajarkan gotong royong dan keadilan. “Koperasi bukan milik elit, melainkan kekuatan rakyat,” demikian salah satu pandangannya.
Samsi mendukung penuh prinsip one man one vote dalam koperasi. Menurutnya, sistem ini mencerminkan demokrasi ekonomi, di mana semua anggota memiliki suara dan kedudukan yang setara dalam mengambil keputusan.
Samsi mendorong agar koperasi tumbuh dari desa. Baginya, ekonomi Indonesia harus berakar dari bawah, dimulai dari petani, nelayan, dan rakyat kecil. Sistem koperasi desa dinilai paling cocok untuk mengangkat kesejahteraan rakyat tanpa ketergantungan pada kapital besar.
Tak hanya itu, Samsi menekankan koperasi sebagai penerjemah nyata dari Pasal 33 UUD 1945. Baginya, koperasi adalah wujud ekonomi Pancasila: adil, mandiri, dan berkeadilan sosial.
Namun, Samsi juga tak menutup mata terhadap ancaman. Ia mengkritik keras masuknya liberalisme ekonomi pasca kemerdekaan. “Jika koperasi dikendalikan oleh elit atau dijadikan alat politik, maka hancurlah semangat gotong royong itu,” tulisnya dalam satu pidato di awal 1950-an.
Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya pendidikan koperasi. Anggota harus paham hak dan kewajiban, serta nilai-nilai koperasi. Tanpa pemahaman itu, koperasi bisa saja berubah menjadi kapitalisme kecil-kecilan.
Menurut Samsi, koperasi bukan hanya untuk simpan pinjam. Harus menyentuh seluruh rantai ekonomi rakyat, dari produksi hingga distribusi. Bahkan ia mendorong lahirnya koperasi pertanian, koperasi tenaga kerja, hingga koperasi konsumen.
Salah satu musuh utama yang ingin ia basmi lewat koperasi adalah rentenir. “Rakyat tak boleh dibiarkan jatuh dalam lingkaran utang berbunga tinggi. Koperasi hadir sebagai tameng,” ujar Samsi dalam forum diskusi di awal kemerdekaan.
Ia pun meyakini koperasi harus dikelola sendiri oleh rakyat, bukan pemerintah. Kemandirian dan transparansi menjadi kunci keberhasilan koperasi. “Koperasi bukan birokrasi,” katanya tegas.
Samsi juga percaya bahwa koperasi harus membangun jaringan. Koperasi tak boleh berdiri sendiri. Solidaritas antar-koperasi justru akan memperkuat posisi tawar rakyat di tengah pasar bebas.
Di akhir hayatnya, Samsi masih setia mempromosikan koperasi sebagai alat revolusi sosial-ekonomi. Sayangnya, nama dan jasanya kini jarang disebut dalam sejarah koperasi Indonesia.
Namun semangatnya tetap hidup. Di tengah geliat koperasi digital dan koperasi milenial hari ini, gagasan Samsi terasa semakin relevan: bahwa koperasi bukan hanya alat bisnis, tapi instrumen perjuangan rakyat. (Togar/Humas)
