Rangkasbitung Klikbmi.com – Sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang itu, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) tidak hanya tumbuh sebagai koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah, tetapi juga menjelma menjadi salah satu mitra sosial yang konsisten hadir di tengah masyarakat Kabupaten Lebak.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pengakuan itu disampaikan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Lebak, Imam Suwangsa, saat bertemu perwakilan Koperasi BMI Group pada Upacara Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 tingkat Kabupaten Lebak di Rangkasbitung, Senin (13/7/2026).
Di tengah semarak peringatan Harkopnas, Imam tak hanya berbicara tentang koperasi sebagai penggerak ekonomi. Ia justru menyoroti kiprah sosial Kopsyah BMI yang menurutnya telah memberi dampak nyata bagi masyarakat Lebak.
“Sebelas tahun BMI berkiprah, sudah 49 rumah hibah dibangun. Kemarin saya ikut meresmikan rumah hibah ke-572 dan ke-573 di Ciminyak, Kecamatan Muncang. Artinya apa? Selama 11 tahun kiprah BMI sudah memberikan kontribusi positif untuk Kabupaten Lebak,” ujar Imam.

Dalam kesempatan tersebut, delegasi Koperasi BMI Group juga bertemu Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah. Rombongan dipimpin Manajer Regional III Kopsyah BMI Suhaemuddin bersama Manajer Regional Ade Gumilar, serta Manajer Cabang Cibadak Hasanuddin, Manajer Cabang Kalanganyar M. Latief, dan Manajer Cabang Warunggunung M. Endra dan Manajer Cabang Leuwidamar Zaenal Arifin.
Menurut Imam, di tengah keterbatasan fiskal daerah, kolaborasi antara pemerintah dengan lembaga masyarakat, termasuk koperasi, menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
“Kehadiran BMI menunjukkan pentingnya kolaborasi dan gotong royong. Di tengah keterbatasan fiskal daerah, kehadiran pihak ketiga seperti BMI menjadi tumpuan untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan sosial masyarakat,” katanya.
Ia mengaitkan kiprah Kopsyah BMI dengan visi pembangunan LEBAK RUHAY, slogan Pemerintah Kabupaten Lebak yang mengusung semangat Rukun, Unggul, Hegar, Aman, dan Yakin. Menurut Imam, salah satu fokus pembangunan daerah adalah pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, serta pembangunan infrastruktur.
“Kalau kita berbicara masyarakat desil lima ke bawah, jumlahnya masih cukup banyak. Program-program ZISWAF BMI membuktikan bahwa persoalan ekonomi masyarakat juga bisa didukung melalui semangat gotong royong dan semangat berbagi ,” ujarnya.
Imam bahkan melontarkan kalimat berbahasa Sunda yang disambut senyum para perwakilan BMI yang hadir.
“Nu sanes anggota wae dijieukeun imah, komo deui tos jadi anggota.(artinya yang bukan anggota saja dibangunkan rumah, apalagi yang sudah menjadi anggota)”.

Ucapan itu bukan tanpa alasan. Data Divisi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) Kopsyah BMI menunjukkan besarnya kontribusi sosial koperasi tersebut di Kabupaten Lebak selama 11 tahun terakhir.
Kopsyah BMI telah membangun 49 unit Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) dengan nilai mencapai Rp2,338 miliar. Di bidang sanitasi, koperasi ini merealisasikan 11 unit Sanitasi Dhuafa senilai Rp65,2 juta serta 19 unit Sanitasi Masjid, Mushala, dan Pesantren (Sanimesra) dengan total anggaran Rp404,49 juta. BMI juga membantu pembangunan 123 masjid dan mushala dengan nilai Rp85,28 juta.
Kontribusi itu berlanjut pada sektor kesehatan. Sebanyak 50 unit kursi roda telah disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sementara layanan 11 armada ambulans gratis telah melayani 1.728 perjalanan mengantar dan menjemput pasien dengan biaya operasional mencapai Rp662,85 juta.
Di bidang pendidikan dan syiar Islam, Kopsyah BMI menyalurkan 713 paket Gerakan Seribu Sajadah dan Al-Qur’an (Geser Dahan) senilai Rp80,88 juta, memberikan 20 santunan pendidikan sebesar Rp17,78 juta, serta membantu 56 anak asuh dengan nilai Rp69,85 juta.
Kehadiran BMI juga dirasakan masyarakat saat menghadapi berbagai musibah. Tercatat 3.349 santunan sakit dan kematian telah disalurkan dengan nilai Rp834,31 juta. Selain itu, terdapat 91 santunan bencana alam seperti kebakaran, rumah roboh, dan puting beliung senilai Rp158,85 juta.

Program sosial lainnya meliputi 180 santunan dhuafa, 131 kegiatan sunatan massal, 732 santunan anak yatim, hingga 32 kegiatan partisipasi peringatan hari besar Islam (PHBI) yang seluruhnya dibiayai melalui dana ZISWAF hasil gotong royong anggota.
Deretan angka dari Manajer ZISWAF Kopsyah BMI Andi ini memperlihatkan bahwa koperasi dapat mengambil peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar lembaga keuangan.
“Koperasi bukan hanya menggerakkan ekonomi. Kalau dikelola dengan semangat gotong royong seperti BMI, koperasi juga mampu menjadi kekuatan sosial yang membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Sementara itu, Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara mengatakan, kehadiran Kopsyah BMI di Kabupaten Lebak selama 11 tahun merupakan ikhtiar untuk membuktikan bahwa koperasi dapat menjadi solusi bagi persoalan ekonomi sekaligus sosial masyarakat. Menurutnya, koperasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya aset atau pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Kami meyakini koperasi yang sehat adalah koperasi yang mampu menebarkan manfaat. Karena itu, sejak awal kami membangun Kopsyah BMI dengan dua kaki yang sama kuat, yakni memperkuat ekonomi anggota melalui pembiayaan syariah dan menghadirkan keberkahan sosial melalui ZISWAF. Dua hal itu harus berjalan beriringan,” ujar pria yang akrab disapa Kambara.
Pria Kelahiran Bangkelang Mandailing Natal ini menegaskan, seluruh program sosial yang lahir di Kabupaten Lebak merupakan buah dari gotong royong ribuan anggota Kopsyah BMI. Dari infak sebesar Rp1.000 yang dikumpulkan setiap pekan melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu (Gassiteru), lahir berbagai program seperti Hibah Rumah Siap Huni (HRSH), layanan ambulans gratis, sanitasi dhuafa, bantuan kursi roda, hingga santunan bagi masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
“Kami bersyukur Pemerintah Kabupaten Lebak memberikan apresiasi terhadap kiprah BMI. Bagi kami, penghargaan terbesar bukanlah piagam atau penghormatan, tetapi ketika masyarakat yang semula tinggal di rumah tidak layak kini bisa tidur dengan tenang, ketika pasien bisa sampai ke rumah sakit tanpa memikirkan biaya ambulans, dan ketika warga yang sedang kesulitan merasa tidak sendirian karena ada semangat gotong royong yang menguatkan mereka,” katanya.
Di akhir keterangannya, Kambara mengajak seluruh anggota untuk terus menghidupkan budaya infak, wakaf, dan tolong-menolong sebagai jati diri koperasi. “Selama semangat gotong royong tetap hidup, insya Allah Kopsyah BMI akan terus hadir mendukung cita-cita Lebak Ruhay. Kami ingin koperasi menjadi mitra pemerintah dalam mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi rakyat, dan menghadirkan keberkahan yang manfaatnya dirasakan bukan hanya oleh anggota, tetapi juga oleh masyarakat luas,” pungkasnya. (Togar/Humas)
