Ajaran Ekonomi Islam : Fokus Kepada Keuntungan Dunia Dan Akhirat

Info ZISWAF

Nasehat Dhuha Jumat 11 Juni 2021 Oleh Ustadz Sarwo Edy, ME

Klikbmi, Tangerang – Jika kita pernah menonton film Kungfu Panda 1, pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Master Oogway. Dia pernah berpesan kepada si panda ketika sedang gelisah untuk mempelajari jurus kungfu, “Yesterday is history, Tomorrow is Mistery and today is a give” (Kemaren adalah sejarah, esok adalah misteri dan hari ini adalah sebuah anugerah). Pesan singkat tapi memiliki arti yang sangat dalam.
Jika kita merujuk kepada pesan di atas, waktu kita dibagi menjadi 3 yaitu kemaren, hari ini dan besok. Di dalam agama islam sendiri dibahas yang lebih komplek lagi dimana kita akan dihadapkan kepada 2 waktu yang berbeda tempatnya. Yaitu Dunia dan Akhirat.

Dunia adalah tempat saat ini kita tinggal dan bisa kita rasakan melalui panca indra kita. Berbeda dengan akhirat. Akhirat adalah tempat masa depan kita selepas “kontrakan” di dunia ini selesai. Akhirat adalah TOMORROW. Masa depan nasib setiap orang yang belum jelas. Akan tetapi Allah memberi waktu (di dunia) untuk setiap insan berikhtiar agar ditempatkan di tempat yang terbaik, yaitu syurga (dengan ridha-Nya) . Berbeda dengan dunia dimana kita bisa merasakan keadaannya secara langsung melalui panca indra kita. Untuk sekarang, mengetahui keadaan akhirat tidak bisa kita rasakan melalui panca indra kita. Akan tetapi kita hanya bisa mengetahui kabar-kabarnya melalui Al-Qur’an dan Hadist. Dalam ilmu tauhid, Kabar-kabar tersebut kita namakan as-sam’iyyat.

Dalam tausiyahnya Ustadz Hendri Tanjung, Ph.D (Ketua Pengawas Syariah Kopsyah BMI) yang tayang di youtube BMI News dengan judul Berkah Ramadhan: 7 Ajaran Ekonomi Islam #Fokus keuntungan dunia akhirat, Beliau menjelaskan bahwa Ada 7 ajaran ekonomi islam yang harus kita amalkan dan kita lakukan dalam praktek keseharian kita.

Simak Tauziah Ust Hendri Tanjung , Ph.D https://youtu.be/8ss8WHgRlus

Ajaran yang pertama adalah Fokus kepada keuntungan dunia dan akhirat. Beliau mengutip dari Surat Al-Qasas ayat 77 yang berbunyi :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dari ayat di atas beliau berpesan agar kita fokuskan mencari akhirat dan tanpa melupakan dunia.
Beliau melanjutkan, bahwa perintah untuk tidak hanya fokus kepada keuntungan dunia saja dan atau akhirat saja juga disabdakan oleh Rasulullah SAW. Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu’anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barang siapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barang siapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” [Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, No. 950].

Dari hadist di atas, dijelaskan bahwa barang siapa yang tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan menjadikan urusannya tidak pernah selesai dan menjadikannya merasa selalu kurang. Dan barang siapa yang fokus kepada akhirat, Maka Allah akan mengumpulkan urusannya dan menjadikan hatinya merasa cukup dan menjadikan dunia yang mendatanginya (bukan dia yang mengejar dunia).

Di akhir video, Ustadz H. Hendri Tanjung, Ph.D mengajak penonton setia BMI News via Youtube untuk menjadikan akhirat sebagai tujuan dan fokus terhadap keuntungan dunia dan akhirat. Pesan yang singkat tapi sangat syarat akan makna. Yaitu keseimbangan dunia dan akhirat.

Dalam kasus ini, manusia dengan cara pandang masing-masing dibagi menjadi 3 bagian :

  1. Golongan manusia yang menganggap bahwa dunia ini adalah syurga dan melupakan tujuan hidupnya (Akhirat).

Mereka itulah yang dalam hidupnya berfoya-foya dan mencari harta sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi semata.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW pernah memperingatkan dalam hadistnya. Rasulullah SAW bersabda,”ada tiga hal yang menyertai seseorang ketika dia meninggal dunia, pertama adalah ahlinya (Keluarga,kerabat dan teman-temannya), kedua adalah harta bendanya dan ketiga adalah amal perbuatannya. Kemudian ada dua hal yang meninggalkan dia di dalam kubur, yakni ahli dan hartanya. Dan yang satu, yakni amal perbuatannya yang menyertai dia di dalam kubur (HR. Bukhari)

2. Golongan manusia yang menganggap bahwa dunia bagaikan neraka, mereka beranggapan dunia adalah syurganya orang-orang kafir.

Mereka itulah yang dalam hidupnya hanya mementingkan ibadah saja. Bahkan diri dan kebutuhan hidup mereka tergantung kepada orang lain.
Menyikapi hal ini, Rasulullah SAW bersabda,”Demi sekiranya salah seorang di antara kamu mencari kayu, lalu dipikul di pundaknya sendiri, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada tetangga. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah (HR. Bukhari).

Hadist di atas mengisyaratkan bahwa di samping kita disuruh ibadah, kita juga diperintahkan untuk tetap bekerja demi kebutuhan duniawi (sandang,papan dan pangan). Dan menjadi wasilah untuk tujuan akhirat.

3. Golongan manusia yang beranggapan bahwa dunia ini bukan surga dan neraka, akan tetapi kebunnya syurga.

Mereka adalah orang-orang yang menyeimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Hal tersebut sesuai perintah Allah di dalam surat Al-Qasas ayat 77.

Dari surat al-Qasas ayat 77 bisa kita simpulkan bahwa Allah memerintahkan kita untuk :

  1. Menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan
  2. Berusaha memperbaiki kehidupan dunia (Menjadikan kehidupan dunia sebagai wasilah untuk menggapai kehidupan akhirat sebagai tujuan)
  3. Menjaga lingkungan. Karena manusia sebagai kholifah fil ardi diberi amanah untuk menjaga bumi dan tidak merusaknya.

Mari jadikan (tujuan) akhirat di hati dan (tujuan) dunia di tangan. Jadikan akhirat adalah tujuan utamanya dan dunia sebagai wasilah untuk menggapainya serta selalu berdoa semoga Allah memberikan kepada kita kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Wahai Robb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Surat Al Baqarah [2] : 201)

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi).

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *