Arrahman Arrahiim

Info ZISWAF

Nasehat Dhuha Minggu, 25 April 2021 | Hari Ke-13 Ramadhan 1442 H| Oleh :  Sularto

Klikbmi, Tangerang – BMI Kliker di manapun berada, dalam satu ceramah pendek yang menyentuh qalbu pendiri ESQ, Ary Ginanjar Agustian mengambil tema Arrahman Arrahiim. Tema ini begitu menyentuh qalbu karena diawali dengan ingatan ada seorang gadis bernama Yuyun yang diperkosa beramai-ramai oleh 14 anak berusia 17 tahun dan kurang dari itu. Dalam pesan pendek ini, kita diberikan intisari kehidupan bahwa banyak dari kita yang terlupa untuk bersikap mengasihi dan menyayangi.

Kita terlupa memasukkan sifat penting untuk mengharmonisasi kehidupan ini dengan menurunkan sifat yang dimiliki Allah SWT. Arrahman Arrahiim. Kita kehilangan qolbu atau hati nurani untuk melihat bahwa hidup harus dijalani dengan semangat saling mengasihi dan menyayangi. Hati nurani juga memiliki mata, mata untuk melihat mana yang baik dan mana yang benar. Jika sifat saling mengasihi dan menyayangi telah luput dari pandangan hati, maka kita tidak lagi mampu mengenali diri sendiri apalagi mengenali Tuhan kita.

Mengenal diri sendiri adalah kemampuan mengenal siapa kita, mau kemana kita, untuk apa kita diciptakan, apa tujuan hidup kita dan yang paling utama siapa yang menciptakan kita. Dialah  yang menciptakan kita. Jika hati kita jauh dari kemampuan melihat ini, maka jangan harap kita mampu berkasih sayang dengan sesama.  Mari kita tengok Al Quran, Surat Al Alaq merupakan surat ke-96 dalam Al Quran. Nama surat Al Alaq artinya segumpal darah yang diambil dari kata Alaq. Surat ini menerangkan bahwa manusia tercipta dari segumpal darah. Oleh karena itu, melalui surat ini Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mencari tahu siapa Tuhan yang menciptakannya dan memuliakannya dengan segala kemampuan. Sayangnya, banyak manusia yang tidak ingat darimana dia berasal dan kurang beryukur atas nikmat-Nya. Terdapat sejarah yang terkenal mengenai ayat 1-5 surat Al Alaq adalah ayat-ayat yang pertama kali diturunkan. Lima ayat pertama surat Al Alaq ini diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW bertafakur di Gua Hira. Jika kita memahami konsep penciptaan kita, tidak akan mungkin kita meninggalkan sifat saling mengasihi dan menyayangi.

Intisari dari semua sifat Arrahman dan Arrahiim adalah kemampuan mengenali Sang Pencipta. Karena dengannya nurani kita akan tersentuh dan mampu melihat bahwa kehidupan akan selaras jika kita memahami sifat Allah Arrahman Arrahiim. Arrahman  artinya Allah Subhanahu wa Taala mempunyai kasih sayang yang sangat luas, meliputi seluruh makhluk-Nya. Allah mengasihi seluruh makhluk-Nya dengan memberikan berbagai kenikmatan. Dan memang tidak ada yang bisa mengasihi seluruh makhluk seperti Allah. Dalam konsep mengasihi ini, Allah SWT akan mengasihi baik orang yang beriman maupun kafir, semuanya mendapatkan rezeki dari Allah.

Dalil nama Arrahman  bisa dilihat antara lain di Surat Thaha ayat 5, Al Mulk ayat 29, Arrahman  ayat 1, dan Al Isra’ ayat 110. Tentu juga ada di awal Alquran yakni basmalah. Arrahiim adalah nama bagi Dzat Allah dan juga merupakan salah satu sifat-Nya. Jika  Arrahman adalah maha pengasih untuk semua makhluk, Arrahiim adalah maha penyayang untuk hamba-Nya yang beriman. Nama Arrahiim disebutkan bersama nama  Arrahman dalam empat ayat. Yakni Al Fatihah ayat 3, Al Baqarah ayat 163, Fushilat ayat 2, dan Al Hasyr ayat 22. Sedangkan Arrahiim bersama Allah dan  Arrahman disebutkan 114 kali dalam mushaf yakni basmalah.

Kemampuan kita mengenali kalam Allah inilah yang harus kita jadikan pegangan bahwa kita harus memiliki sifat mengasihi siapapun tanpa membedakan apakah dia orang yang baik sama kita atau tidak baik sama kita. Kita harus mampu tetap menyayangi orang-orang yang kondisinya tidak lebih baik dari kita. Kasih sayang adalah sebuah kenikmatan yang dirasakan manusia di dunia. Dengan adanya rasa kasih sayang, tercipta kepedulian, kedamaian dan rasa empati kepada orang lain. Tidak hanya itu, kasih sayang bisa mendorong manusia untuk membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh sesamanya. Tanpa adanya rasa kasih sayang, mungkin manusia akan menjadi sangat individualistis, egois dan tidak memikirkan kepentingan orang lain.

Islam, sebagai agama yang sempurna, ternyata memiliki pandangan tentang kasih sayang. Islam memahami bahwa manusia merupakan makhluk yang sempurna, dibekali dengan akal, nafsu, dan segala perasaan di hatinya. Tidak seperti malaikat yang selalu taat dengan perintah Allah, manusia terkadang lebih mengutamakan akal atau nafsunya dibandingkan perintah Allah. Maka, Islam pun mengatur batas-batas atau bentuk kasih sayang yang diperbolehkan dalam Islam.

Manusia diciptakan Allah di dunia semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Untuk beribadah kepada Allah, tentu kita harus menjalankan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah. Maka, tentu kita harus paham untuk selalu menjadikan prinsip ini sebagai pegangan hidup kita, termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memegang prinsip tersebut, kita akan terbiasa untuk meniatkan diri beribadah kepada Allah dalam setiap hal yang kita lakukan, termasuk dalam hati atau perasaan kita. Tidak ada rasa kasih dan sayang yang kita berikan kepada makhluk lain kecuali untuk memperoleh ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Kasih sayang memiliki makna yang tidak terbatas. Memiliki rasa kasih sayang kepada makhluk lain merupakan fitrah yang dimiliki manusia. Maka, tentu kita harus menempatkan rasa kasih sayang ini sesuai kodratnya, tidak melewati batas-batas hukum Islam. Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Turmudzi, “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya”. Dari hadis tersebut yang disebutkan adalah ‘manusia’ bukan hanya saudara muslim. Maka, kita bisa mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk menyayangi semua manusia di bumi.

Tidak hanya di hadis tersebut, dalam hadis lain juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi”. Kemudian mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, semua kami pengasih”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kembali, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia” (H.R. Ath Thabrani).

Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi seluruh alam, juga mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya berlaku antar manusia, melainkan juga pada hewan, tumbuhan dan lingkungan di sekitarnya. Pernah diceritakan Abu Bakar as Shiddiq radhiallahu ‘anhu berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid, “Janganlah kalian bunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu”. Nasehat ini, yang diberikan dalam keadaan perang, sungguh mencerminkan makna kasih sayang yang diajarkan oleh agama Islam. Kasih sayang tidak hanya untuk manusia, melainkan juga untuk lingkungan di sekitarnya.

Islam adalah agama yang sejak keberadaannya selalu menebarkan kasih sayang di muka bumi. Dalam surat At Taubah ayat 128, Allah subhanahu wa ta’alah berfirman, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa Islam sendiri diturunkan dengan penuh kasih sayang kepada semua umat manusia. Untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dalam Islam juga telah diatur dengan mengikuti ajaran yang telah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bentuk kasih sayang ini dibungkus dengan iman. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.

Untuk mewujudkan kasih sayang dalam Islam, manusia diajarkan untuk melakukan perbuatan yang nyata. Kasih sayang kepada sesama bisa berbentuk perbuatan tolong menolong, menjaga silaturahmi, meringankan beban dan kesulitan orang lain, mengajak orang lain ke jalan Allah, menjaga kedamaian dan lain sebagainya. Sementara itu, kasih sayang kepada makhluk lain dan lingkungan bisa berupa menjaga kebersihan, keasrian, dan kelestarian lingkungan. Maka, kasih sayang dalam Islam dapat terwujud sepanjang waktu, sepanjang usia manusia tersebut hidup di bumi. Dari banyak hadis di atas, jelaslah bahwa kasih sayang dalam Islam memiliki makna yang sangat luas. Sifat kasih sayang ini termasuk dalam sifat yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala membenci orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang di hatinya. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya, “Rasa kasih sayang tidaklah dicabut, melainkan hanya dari orang-orang yang celaka” (H.R. Ibn Hibban).

Maka, dengan kita menciptakan kasih sayang kepada manusia dan makhluk lainnya, asalkan tetap dalam koridor agama, merupakan salah satu bentuk ketakwaan kita kepada Allah. Hal  ini bisa menjadi penyebab Allah mencintai diri kita. Kasih sayang yang termasuk akhlak mulia tentu disukai oleh Allah dan merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah jika diniatkan dan ditunjukkan dengan cara yang benar. Dalam hadis riwayat Na’im melalui Ibnu Abbas radhiallahu ‘anha, disebutkan “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Pengasih, Dia mencintai sifat pengasih, dan Dia mencintai akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah”. Dari beberapa hadis dan makna kasih sayang dalam Islam di atas, kita bisa mengetahui bahwa Islam merupakan agama yang bernar-benar memerintahkan kita untuk saling mengasihi dan menyayangi. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan stigma bahwa Islam adalah agama yang keras dan menyukai kekerasan, seperti tindakan terorisme, bom dan perilaku merusak lainnya. Jika hewan dan tumbuhan saja diperintahkan untuk dikasihi dan disayangi, apalagi nyawa sesamanya.

Sebagai seorang muslim kita harus mulai menjalankan ajaran Islam untuk mengasihi dan menyayangi sesama. Dengan demikian, kita bisa menjadi muslim yang lebih baik yang insyaaAllah menunjukkan ke dunia jati diri muslim sesungguhnya. Mari tunjukkan sifat saling mengasihi dan menyayangi ini dengan berbagi (bersedekah). Salurkan sedekah terbaik  kita melalui rekening Ziswaf Kopsyah BMI : BNI Syariah : 7 2003 2017 1 a/n Benteng Mikro Indonesia. Simpanan Sukarela : 000020112016. DO IT BMI : 0000000888 dengan memilih paket takjil ataupun paket wakaf mushaf Al-Qur’an dan ataupun dua-duanya. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *