Hati-Hati! Tiga Pintu Neraka Dan Tiga Perangkap Setan

Edu Syariah

Nasehat Dhuha Sabtu, 27 November 2021 | 21 Rabiul Akhir 1443 H | Oleh :  Ust M Reza Prima, ME

Klikbmi, Tangerang – Tema kita hari ini adalah terkait dengan perkara yang mampu membuat kita masuk neraka. Bersumber dari Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah [Al-Fawaaid: 58] :

Ada tiga pintu yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka:

  1. Pintu Syubhat, yaitu apa saja yang bisa menimbulkan keraguan manusia terhadap agama Allah Ta’ãlã.
  2. Pintu Syahwat, yaitu apa saja yang bisa menimbulkan dorongan untuk mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah Ta’ãlã dan upaya dalam menggapai ridha-Nya.
  3. Pintu amarah, yaitu apa saja yang bisa menimbulkan permusuhan manusia terhadap makhluk Allah Ta’ãlã lainnya.

Syubhat adalah semua pendapat yang tidak sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dampak buruknya adalah kekafiran, kesyirikan, kerusakan aqidah dan bid’ah.

Menuruti nafsu syahwat dan tidak disalurkan pada jalur yang halal maka memunculkan kemaksiatan seperti syahwat kemaluan: zina, syahwat perut: riba, korupsi, dan lain-lain.

Jika kita menemukan perkara semacam ini, maka lebih utama untuk ditinggalkan. Semacam seseorang mendapati perselisihan ulama, apakah mengambil foto diri itu dibolehkan atau tidak dalam keadaan non-darurat. Jika dalam masalah ini, kita tidak bisa menguatkan salah satu pendapat karena kuatnya dalil yang dibawakan dari pihak yang melarang dan pihak yang membolehkan, maka sikap wara’ dan hati-hati adalah tidak mengambil foto diri kecuali dalam keadaan darurat. Namun bagi yang sudah jelas baginya hukum setelah menimbang dalil, maka tidak masalah ia mengambil pendapat yang ia yakini.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Tidak menahan marah memunculkan kezaliman kepada hamba-hamba Allah, seperti ghibah, menghina, memukul bahkan membunuh. Seorang yang diselimuti rasa marah hendaklah menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum bertindak atau berucap. Dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.”

Dalam hadis lain juga dikatakan, dianjurkan bagi seorang yang diliputi amarah untuk berwudhu. Alasannya, rasa marah itu datangnya dari setan, sementara setan diciptakan dari api. Jadi, air yang bisa memadamkan api.

Perlu diingat oleh seorang yang diliputi amarah bahwa marah menjadi senjata ampuh bagi setan untuk membinasakannya. Seorang yang diliputi marah akan dengan mudah dikendalikan oleh setan. seorang yang marah bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, menghina, mencaci-maki, hingga kalimat talak yang mengakhiri rumah tangganya.

Setiap orang yang berakal pasti menyadari bahwa setan tidak akan menemukan celah dan perangkap untuk memperdayai manusia kecuali melalui tiga hal, yaitu:

  1. Sikap boros dan berlebihan, sehingga semuanya serba melebihi kebutuhan. Karena yang lebih dari kebutuhan itulah yang menjadi perantara dan jalan masuknya setan ke dalam hati manusia. Cara menghindarinya adalah dengan memenuhi kebutuhan sesuai dengan keperluannya, baik dlm hal makan, tidur, bersenang-senang maupun beristirahat. Dengan ditutupnya celah masuk setan ini niscaya si setan tidak akan masuk melalui jalur ini.
  2. Lalai mengingat Allah Ta’ãlã.. Karena orang yang berzikir kepada Allah Ta’ãlã selalu berada dalam lingkungan benteng zikir. Manakala ia lalai berzikir maka gerbang bentengnya akan terbuka sehingga setan bisa memasuki ke dalam bentengnya. Apabila telah merasuk ke dalam diri maka sulit baginya untuk mengusir setan.
  3. Membebani diri dengan hal apapun yang tidak penting. Jika anda mampu menahan pahitnya disapih dari dunia maka sapihlah diri anda. Namun jika anda tidak kuat menahannya maka menyusulah seperlunya saja, karena kekenyangan itu membinasakan.

Terkait dengan sifat boros dalam QS. Al-Isra’ Ayat 26 kita dilarang untuk menghambur-hamburkan uang secara boros.

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا

26. Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Memang Allah SWT melarang kita untuk berbelanja yang mengarah pada hal yang tidak berguna atau bahkan merusak. Masih banyak di antara kita yang membelanjakan harta tidak pada tempat yang tepat sesuai dengan kebutuhan kita dan hanya menuruti keinginan bahkan dengan mudah melupakan sedekah.

Wallahu A’lam

Mari tetap ikhtiar terbaik dan berikan dari sebagian rejeki kita untuk orang yang membutuhkan. Insyallah rejeki yang kita terima akan berkah. Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.