Meninggalkan Maslahat Karena Adanya Mudharat Yang Lebih Bahaya

Edu Syariah

Nasehat Dhuha Kamis, 20 Januari 2022| 12 Jumadil Akhir 1443 H | Oleh : Ustadz M Reza Prima, ME

Klikbmi, Tangerang – Agama kita mengajarkan untuk memperhatikan maslahat dan menjauhi mudharat (marabahaya), namun ada kalanya sebuah maslahat terkandung mudharat. Pertanyaannya apa yang mesti dilakukan kalau ada maslahat pada saat yang sama mengandung mudharat. Hal ini pernah terjadi di zaman Nabi dan direkam dalam sebuah ayat. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Q.S. Al An’am/6: 108)

AYAT ini memiliki konteks yang terkait dengan judul dan pertanyaan di atas. Asbabun Nuzul (sejarah yang melatarbelakangi) ayat ini, diriwayatkan dahulu para sahabat menghina Tuhan Tuhan orang musyrik hingga hal tersebut menjadi sebab lontaran hinaan orang musyrik atas Allah. Mereka membalas hinaan tersebut dengan hinaan pula. Para sahabat sebenarnya menghina sosok yang layak dihina (berhala kaum musyrikin) namun hal itu menjadi sebab Allah dihina sehingga turunlah ayat melarang.

Dari ayat dan sejarahnya ini kita dapat pelajaran berharga, jangan sampai karena kita hendak meraih sebuah kemaslahatan namun pada saat yang sama mendatangkan kemudharatan. Inilah yang disebutkan Imam Ibnu Katsir, “Tarkul maslahat li mudharat ini arjah minha” Meninggalkan sebuah kemaslahatan karena adanya kemudharatan yang lebih rajih (kuat untuk ditinggalkan).

Kawan. Mari kita perhatikan setiap langkah kita. Jangan sampai kita memburu sebuah kemaslahatan namun justru melahirkan kemudharatan yang harus kita pikul. Kemaslahatan harus tetap dicari dan dicapai, namun jangan mendatangkan kemudharatan pada waktu yang sama.

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888. (Sularto/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.