Sedekah Sayur Ibu Fenti

Edu Syariah

Nasehat Dhuha  Senin, 7 Maret 2022| 4 Syaban 1443 H | Oleh : Tim Humas BMI

Klikbmi, Tangerang – Matahari beranjak tenggelam saat Fenti Andriyani (41) tiba dirumahnya. Langkahnya terburu-buru, nafasnya tersengal, tapi matanya berbinar. Petang itu di Bulan September 2017, sayur mayur hidroponiknya akan panen perdana. Masih berbalut pakaian kerja, Fenti langsung beranjak ke halaman belakang rumahnya.  

Berbagai jenis sayuran terhampar di lahan 500 meter itu. Ada kangkung, pakcoy, sawi hijau, selada, hingga Caisim. Semuanya terlihat fresh dan tumbuh nyaris sempurna. Suara gemercik air yang mengalir ke media tanam serasa sedang berada di persawahan. Namun suasana adem itu hanya beberapa saat. Setengah jam sekali, deru suara KRL tak henti berbunyi hingga malam tiba. Maklum, jarak rumah Feni di Kampung Nengnong, Cisauk, Tangerang hanya dua meter dari rel kereta.

Dari dalam rumah, sang ibu, Zuliah (69) langsung menghampiri Fenti yang masih termenung di lahan belakang. Hati Pensiunan Guru TK di Depok itu juga sama dengan Fenti. Riang. Tangan Anggota Kopsyah BMI itu juga sudah mengenggam dua gunting. Siap memanen. Di kebun hidroponik itu, ada peran Zuliah. Di saat Fenti bekerja sebagai staf administrasi di RS Jakarta, ia merawat tanaman itu dari pagi hingga sore.

”Ayo, kita panen. Sana ganti pakaian dulu. Anakmu biar sama bapaknya,” ajak Zuliah.

”Ya bu,” jawab Fenti singkat.

Beberapa lama kemudian, Fenti sudah berganti pakaian. Zuliah masih menunggu di kebun. Ia tak mau asal-asalan memotong sayur di panen perdana itu. Untuk cara ini, ia hanya mengikuti apa yang dilakukan putrinya.

Fenti Andriyani (kiri) dan sang ibu Zuliah di depan lahan hidroponiknya, Kamis 3 Maret 2022. Lewat pembiayaan dari Kopsyah BMI, keduanya membangun greenhouse dan media budidaya ini.

Satu demi satu sayur mayur itu mereka gunting bersama. Hampir dua jam, ibu dan anak itu berada di lahan belakang. Total sayur yang dipanen ada 30 ikat. Meski diterangi lampu 5 Watt, sayuran hidroponik itu terlihat segar dan natural, tanpa tanah dan bau pestisida sedikitpun. Wajar jika di pasaran, harga tanaman hidroponik melambung hingga Rp15 ribu perikatnya atau lebih. Di saat tren hidup sehat meroket, sayuran ini menjadi incaran di supermarket hingga sekarang.

Lantas apakah Fenti mau menjualnya hasil panennya? Tidak. Panen perdana itu ia sedekahkan. Fenti hanya menyisihkan 5-8 ikat sayur untuk dapurnya. Sementara sisanya, menjadi buah tangan untuk para tetangganya. Sepulang dari lahan, ia dan Zuliah sudah mengetuk pintu tetangga kiri kanannya. Semua bahagia mendapatkan sayur segar dan mahal.

”Dan sedekah sayur itu masih kami lakukan hingga sekarang,” terang Fenti saat dikunjungi Redaksi Klikbmi di rumahnya, Kamis 3 Maret 2022.

Fenti yang sudah 3 tahun menjadi anggota Kopsyah BMI itu hanya mengambil sedikit keuntungan. Jika dipasaran harga sayur hidrponik menembus Rp15 ribu- Rp20 ribu perikat, Fenti hanya menjualnya Rp5.000. Ia hanya menjual 10 ikat setiap hari. Itupun pesanan koleganya atau kantin di tempatnya bekerja. Jika ditotal, omzetnya hanya Rp50 ribu sehari. Karena sebagian panennya ia sedekahkan kepada yang lain.

”Kalau masih ada sisa (sayuran), saya kasih baik ke saudara atau tetangga,” ujarnya.

Fenti menggeluti budi daya sayuran dengan teknik hidroponik pada pertengahan 2017. Berawal saat melihat media sosial facebook sejumlah temannya yang terlebih dahulu menekuni usaha tersebut. Wanita itu lantas getol berburu referensi, kemudian mempraktikkannya. Semakin lama menggeluti budidaya sayuran sehat itu, Fenti seolah semakin jatuh cinta. “Awalnya tertarik saat melihat video budidaya hidroponik di Facebook,” kenang Fenti.

Ibunda Fenti, Zuliah menyeleksi tanaman yang akan dipanen. Dari dia, wanita pensiunan Guru TK itu mengajak Fenti menjadi anggota Kopsyah BMI tiga tahun silam.

Tak ada hal baru yang mudah. Meski di video terlihat gampang mempraktikkan budidaya hidroponik, praktiknya sangat sulit. Beberapa kali mencoba, dia gagal. Ia juga sempat gagal karena bibitnya tak berkembang sesuai ekspektasi. ‘’Bahannya dari bekas botol air mineral dan boks stirofoam buah. Modalnya cuma Rp 200 ribu waktu itu. Namanya juga sudah hobi, nggak berharap langsung bisa bangun greenhouse pak,” kenangnya.

Ia mengaku pernah kesulitan modal untuk membesarkan lahannya tersebut. Hingga suatu hari, sang ibu menawarkannya menjadi anggota Kopsyah BMI. Zuliah sendiri sudah 12 tahun menjadi anggota. Dari pembiayaan Kopsyah BMI, Zuliah patungan membangun greenhouse milik putrinya tersebut.

Fenti yang sudah menjadi anggota Kopsyah BMI kemudian mendapatkan pembiayaan awal Rp2 juta. Dari pembiayaan itu, Anggota Rembug Pusat Gurame Cabang Cisauk itu membuat media tanam hidroponik. Tak begitu besar, namun dari lahan itu, sebagian besar kebutuhan sayuran sehat tetangganya ikut tercukupi dari sedekah sayur. Kini pembiayaan BMI untuknya sudah mencapai Rp6 juta, ia pun ingin membangun greenhouse yang lebih besar lagi.

”Alhamdulillah,dari pembiayaan Kopsyah BMI, saya bisa menutupi kebutuhan dapur dan juga bisa sedekah dari hidroponikk ini. Memang hasilnya nggak besar pak, tapi niat kami memang ingin hidup sehat dan saudara atau tetangga yang lain juga ikut merasakan,” terangnya.

Kini, Fenti sudah memiliki banyak pelanggan sayuran hidroponik yang dibudidayakannya. Termasuk rekannya  dan kantin tempatnya bekerja. Bahkan, sejak pandemi korona, permintaan meningkat dua kali lipat. Kantin RS Jakarta tempatnya bekerja butuh tanaman yang organik tanpa pestisida sekalipun. ‘’Masa panennya lumayan cepat. Pakcoy 25-30 hari, kangkung 15 hari, selada 35 hari,” paparnya.

Hampir lima tahun menggeluti usaha ini, keadaan lahan di belakang rumahnya sudah berubah total. Greenhouse berukuran 30 meter persegi sudah berdiri. Ia juga memiliki 3 bak media tanam apung sebagai tempat pembesarannya. Di lahan itu, ia tak hanya menanam dan memanen saja, melainkan juga mengajarkan para kerabat atau tetangganya berbudidaya secara hidroponik.

”Alhamdulillah, sekarang sudah banyak kawan dan tetangga yang ikut budidaya model seperti ini,” terangnya.

Saat ini, banyak kerabat dan tetangganya lihai memilih sayuran. Alasan mereka memilih sayuran hidroponik lantaran tanpa pestisida. Selain itu, tidak mudah layu dan rasanya lebih crunchy (renyah). Pun, dari segi harga tidak berselisih jauh dengan sayuran yang ditanam dengan metode konvensional. ‘’Bisa tahan sampai satu bulan jika disimpan dalam freezer,’’ sebut Fenti.

Fenti bersama Zuliah membuka stand sayur hidroponik di Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi BMI di Spring Club, Summarecon Serpong, 25 Januari 2022.

Memang sayuran hidroponik juga tidak luput dari serangan hama. Namun, Fenti memilih menggunakan pestisida nabati. Untuk membasmi kutu daun, misalnya, dia menggunakan formula rendaman tembakau dan bawang putih. Sedangkan untuk mengatasi serangan belalang memakai rendaman daun sirsak atau pepaya.

”Kelemahannya, kalau pakai pestisida organik, penyemprotan harus dilakukan secara rutin. Biasanya kalau parah dua hari sekali,” ujarnya.

Tahun ini, bisnis sayuran hidroponik yang ditekuninya berkembang dengan pesat. Jika awalnya hanya memproduksi sendiri, kini sudah kewalahan memenuhi pesanan kendati hanya kenalan semata. Bagaimana permintaan sayuran saat pandemi Covid-19 seperti sekarang? Fenti bersyukur, saat banyak usaha yang kolaps terdampak korona, permintaan sayurannya justru meningkat.

Ia juga memiliki jaringan perkawanan pemilik kebun hidroponik di Tangerang mulai dari usaha mikro hingga besar sekalipun. Ia juga mengajak para anggota Kopsyah BMI jika ingin belajar budidaya hidrponik khusus di Hari Libur atau Minggu. Dengan begitu, sambung dia, kebutuhan sayuran sehat di tingkat keluarga bisa terpenuhi. Pada gelaran RAT Koperasi BMI Tahun Buku 2021, Fenti juga membuka stand di acara tersebut. “Sepertinya masyarakat semakin hati-hati memilih makanan. Mencari yang higienis,” urainya.

Impian Fenti hanya satu. Ia sedang menabung untuk membangun greenhouse yang lebih besar. Dengan greenhouse itu, Fenti ingin memberikan manfaat tidak hanya bagi kerabat dan tetangganya, namun juga bagi Anggota Kopsyah BMI yang ingin bergelut di budidaya ini. Amin ya Rabbal Alamin.

Dari kisah Ibu Fenti dan sang ibu, kita tentu memahami bahwasanya setiap perbuatan baik sekecil apapun yang kita lakukan, akan dibalas oleh Allah SWT, demikian juga dengan sebaliknya. Fenti yang memilki niat untuk bersedekah dan tekun belajar hidroponik, nyatanya menjadikan kebun tersebut menjadi penghasilan tambahan baginya, hingga kewalahan memenuhi tawaran yang datang.

Oleh karena itu, saat kita melakukan kebaikan terhadap orang lain, maka Allah juga akan membalas kita dengan memberikan hal yang sama baiknya kepada kita.

Allah SWT berfirman :

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

Dari ayat ini, kita menjadi semakin tahu bahwa menjadi manusia yang berperilaku baik dan mau menolong sesama adalah perbuatan mulia yang mendatangkan banyak keberkahan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang giat berikhtiar, giat bersedekah dan senantiasa yakin kepada Allah Swt. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Mari terus ber-ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf) melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 (BSI eks BNI Syariah) a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela : 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI : 0000000888.

(Togar Harahap/Klikbmi)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.