Gabah dari Anggota, Digiling Anggota dan Dikonsumsi oleh Anggota

BMI Corner

“Tujuan utama berkoperasi bukanlah keuntungan semata, tetapi sosial dan pemberdayaan sebagai upaya pemerataan ekonomi berkeadilan,”

(Presiden Direktur Koperasi BMI, Kamaruddin Batubara, S.E, M.E)

TANGERANG– Kebutuhan produk pangan sehat kian meningkat seiring dengan peningkatan gaya hidup sehat di tengah masyarakat. Untuk itu, Koperasi Benteng Mikro Indonesia (BMI) mengambil peluang tersebut dengan meluncurkan Beras BMI.

Peluang tentunya harus dibarengi dengan pemberdayaan anggota yakni para petani atau produser penggiling beras lokal. Dorongan ini agar produk organik lokal bisa memiliki daya saing yang baik dan akhirnya mampu mengisi pasar yang ada.

Prospek Beras BMI Mencerahkan, selengkapnya baca di: Nurhaya : Bisnis Beras BMI Berkah Dan Menguntungkan

Pasar yang dimaksud tentunya anggota Koperasi BMI yang kini telah mencapai 265 ribu orang. Koperasi BMI lewat divisi pemberdayaan anggota terus menggenjot pemenuhan beras pecah kulit tersebut bagi captive marketnya.

Pola scale up bisnis dilakukan BMI yakni membuka beberapa penggilingan. Pemiliknya adalah anggota BMI sendiri. Selain pemberdayaan, pembukaan banyak cabang ini untuk menghindari biaya distribusi dan logistik yang tinggi. Kini, BMI telah membina empat produsen beras yakni di Mauk, Sukadiri, Sepatan dan Cisauk. Dalam sepekan, sebanyak 7 kuintal hingga 1 ton beras dihasilkan yang disebar ke anggota.

BERAS PEMBERDAYAAN: Iip Wahyuni menunjukkan bulir-bulir beras sebelum dikemas menjadi Beras BMI dirumahnya di Kampung Wakaf, Desa Tegal Kunir Kidul, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

Salah satu produser Beras BMI di Mauk, Iip Wahyuni mengaku, potensi pasar beras BMI sangat mencerahkan. Selain memiliki captive market di koperasi, kualitas Beras BMI yang dihasilkan sangat premium.

Wakaf Sawah BMI untuk Hajat Hidup Orang Banyak, selengkapnya baca di: Wakaf Sawah BMI, Bangkitkan Kedaulatan Pangan Di Tengah Pandemi

”Saya pasarkan ke minimarket Koperasi BMI, kantor cabang Koperasi BMI dan perumahan yang ada di sini serta tetangga sekitar yang membeli beras ke rumah, pokoknya soal pasar saat ini kita tidak khawatir,” ujarnya.

“Sebagai produsen, saya juga terus mengupayakan agar kualitas beras tetap terjamin dan bervitamjn, beras yang tidak sekedar mengenyangkan tapi juga menyehatkan,” terang wanita yang sudah menjadi anggota BMI sejak 2010 tersebut.

Bagaimana BMI menjaga kualitas beras BMI, selengkapnya baca di: Beras BMI, Beras Berkualitas Dengan Harga Terjangkau

Bersama suaminya, Syaiful Syahri, wanita berusia 39 tahun ikut bertanggung jawab dalam mencari pasokan gabah terbaik dari petani. Pengalamannya selama 10 tahun sebagai penggiling beras, membuatnya paham kualitas gabah yang dibelinya.

Di sisi lain, rumahnya yang berlokasi di Kampung Wakaf, Desa Tegalkunir Kidul juga berada di tengah persawahan warga dan memudahkannya mendapat pasokan gabah.

“Banyak manfaatnya berbaur di tengah petani, kita memahami bagaimana mengolah gabah yang baik. Selain itu, berasnya juga enak beda dengan yang lain,” ujarnya seraya menunjukkan stok gabah petani sebanyak 2,5 ton yang siap digiling menjadi Beras BMI.

Saat ini, Iip mendapat pinjaman alat penggiling beras dari BMI. Mesin KD 580 dengan motor penggerak Honda tersebut mampu menghasilkan 3-4 kuintal beras BMI setiap hari. Dengan proses produksi yang memakan waktu 3-4 jam. Konsumsi BBM nya terbilang irit karena butuh Rp100 ribu dalam setiap produksi. Beras BMI hanya digiling sekali, sehingga bekatul dan serat yang penting bagi pencernaan tidak ikut terbuang.

KUALITAS NOMOR SATU:Proses pengolahan beras BMI mengikuti sejumlah prosedur kualitas. Beras berasal dari gabah yang langsung digiling dan prosesnya tidak banyak tangan.

” Saya tidak melihat keuntungan semata, tapi melihat upaya Koperasi BMI mengedukasi anggotanya mengenai makanan yang sehat dan bergizi,” jelasnya.

Dalam proses produksinya, beras BMI mengedepankan kehigienisan sebaik mungkin. Iip menjelaskan mulai dari proses pengilingan hingga pengemasan dilakukan dengan satu tangan. Beras BMI yang sudah digiling dimasukkan ke dalam plastik transparan yang memungkinkan tidak ada tangan lain yang memegang beras tersebut. Alasan pemakaian kemasan plastik lainnnya adalah menjaga kualitas beras BMI dan mencegah datangnya kutu.

”Ini sesuai standar operasional BMI pak, jadi lebih higienis. Kita pakai kemasan plastik agar terhindar dari kutu, karena beras BMI tidak pakai pengawet dan pemutih dan benar-benar alami dari padi baru. Apalagi di tengah pandemi ini, pembuatannya harus lebih mengedepankan upaya pencegahan Covid 19,” tuturnya.

Prospek Beras BMI yang cerah membuat Iip akan mengajukan pembiayaan Mikro Tata Griya (MTG) dalam waktu dekat. Pembiayaan itu untuk membangun gudang penyimpanan beras di samping rumahnya. Ia pun tengah menanti datangnya mesin penggilingan Beras BMI ke rumahnya.

SEHAT DAN AMAN:Beras BMI merupakan beras pecah kulit. Beras yang diproduksi dengan sekali penggilingan, tak menghilangkan serat, protein didalamnya. Beras ini aman bagi penderita diabetes sekalipun.

Sementara, Manajer Pemberdayaan Kopsyah BMI Muhammad Suproni menuturkan, model bisnis penggilingan di banyak tempat akan meningkatkan efisiensi tidak hanya dalam hal biaya pengiriman, tetapi juga dalam mengamankan perolehan bahan mentah yakni gabah.

“Dalam sebulan, beras BMI yang dihasilkan mencapai 2,5 ton atau 500 bal isi 5kg perbulan. Pasokan ini terus kita genjot. Di tahun 2021, target jumlah penggilingan terus kita genjot menjadi 25 titik,” jelasnya.

Dijelaskannya, para anggota yang menjadi penggiling beras mendapat keuntungan hingga Rp800 ribu hingga Rp1 juta per minggu dari 1 ton gabah. Angka tersebut, belum termasuk keuntungan dari dedak (limbah kulit padi) yang bisa mencapai Rp500 ribu. “Jadi secara ekonomi, pemberdayaan oleh koperasi tidak hanya membuat anggota mandiri, namun ikut mengangkat taraf ekonomi keluarga anggota,” terangnya.

Roni mengatakan beras BMI sangat terjangkau. Jika dibandingkan harga beras organik dan premium di retail yang ada, harga Rp65 ribu untuk kemasan 5 Kg sangat terjangkau oleh para anggota dan masyarakat.

Bagi para anggota BMI yang berminat untuk menjadi penggiling beras, Suproni menjelaskan sejumlah syaratnya. Para calon produser harus memiliki stok gabah lebih dari 1 ton untuk mencukupi permintaan. Selain itu, calon produsen memiliki latar belakang sebagai seorang petani atau penggiling beras.

”Jika syarat itu dipenuhi, maka sang calon produsen akan diberikan masa percobaan selama dua minggu. Selama itu, mereka akan dipinjamkan mesin penggilingan dari BMI. Setelah berhasil, anggota mendapatkan pembiayan membeli alat penggilingan sendiri. Selain itu, anggota produsen ini wajib promosi beras BMI ke anggota lain,” terangnya.

JAGA KUALITAS: Selain kesehatan, beras BMI juga mengedepankan kualitas dengan menaruhnya di kantung plastik dan sebagai pencegahan datangnya kutu beras.

Terpisah Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara mengatakan, di tengah situasi kesehatan yang rentan dan kesadaran masyarakat yang meningkat, ini merupakan momentum yang tepat  meluncurkan produk beras sehat.

”Koperasi BMI terus mengedepankan prinsip koperasi. Yakni Dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Jadi berasnya dari anggota, produsen dari anggota dan konsumennya adalah anggota. Pemberdayaan tidak hanya pada area bisnis atau menghasilkan profit semata, melainkan anggota juga diberikan edukasi mengenai beras yang baik dan sehat untuk dikonsumsi,” paparnya.

Kamaruddin Batubara menjelaskan Koperasi BMI tengah meningkatkan produk Beras BMI. “ Beras BMI ini adalah beras yang dihasilkan dari gabah baru petani Tangerang langsung giling. Sehingga hasilnya segar dan nilai gizinya sangat tinggi. ”Beras ini juga memiliki fungsi pemberdayaan, petaninya petani Tangerang dan beras kita jual untuk memberikan keuntungan bagi masyarakat Tangerang,” tandasnya. (gar/KLIKBMI)

Share on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.